Wednesday, November 6, 2019

Berdiri Sepatu Atheis – By Abdussyukur Muharam (Komunitas Bisa Menulis)


DISCLAIMER: Tulisan berikut mengandung hal-hal sensitif. Jika berkenan membaca, mohon lakukan dengan bijaksana


#Keluar_dari_Barisan
Tempo hari saya melihat video podcast Deddy Corbuzier featuring seseorang yang mengaku baru melepaskan keislamannya dan belum memutuskan akan memeluk agama apa. Untuk menegaskan langkahnya itu, ia secara resmi mencopot nama Muhammad yang semula tersemat padanya. Alasannya, nama tersebut pemberian Nyokap, bukan keinginannya sendiri. Orang ini, yang ternyata seorang artis rap, dengan ucapan ditingkahi bahasa Inggris yang sebagian besar kosa katanya berisi sumpah-serapah, menceritakan latar belakang keluarganya. Ayahnya meninggalkan keluarga ketika ia masih bayi, ibunya mengirimnya ke sekolah Kristen, dan ia harus menjalani masa kecil dan remaja yang berat sampai akhirnya bisa mencapai apa yang ia klaim sebagai “sukses.”

Saya terusik bukan karena sama sekali tidak pernah mendengar nama artis tersebut sebelumnya, namun membayangkan bagaimana perjalanan hidup orang ini menggiringnya pada jalur murtad. Mendengar begitu derasnya ungkapan-ungkapan kebencian terhadap ayahnya keluar dari lisannya, saya berani menduga pengalaman getir yang dialaminya di rumah berkontribusi besar terhadap pilihannya melepas keyakinan yang ‘diwariskan’ orangtuanya itu.

"Does God exist?” tanyanya sambil tertawa, yang juga disambut dengan tawa pahit oleh Tuan Corbuzier.

Saya mengelus dada. Bukan cuma karena mendengar pertanyaan tersebut dilontarkan di ranah publik oleh seseorang dengan banyak follower, tapi karena membayangkan banyaknya orang di luar sana yang punya pemikiran serupa. Di linimasa akun Facebook, hampir setiap hari saya membaca post atau komentar dari para “pemikir bebas” itu. Pernah ada satu akun di friendlist yang dalam obrolan di Messenger mengatakan bahwa ia mencantumkan agama tertentu di KTP hanya karena tidak bisa membiarkannya kosong. Pada kenyataannya ia tidak menganut agama apa pun. Bisa diyakini bahwa ia bukan satu-satunya orang yang melakukan itu.

#Atheis_dalam_Angka
Berapa banyak sebenarnya para atheis dan agnostik ini di Indonesia? Pasti akan sangat sulit menemukan jawaban yang akurat. Sensus kependudukan tidak dapat mendeteksi mereka karena di Indonesia, secara de jure, konstitusi tidak memberi ruang bagi mereka. Tapi de facto, keberadaan mereka cukup terasa. Terutama jika kita mau menengok grup-grup tempat mereka bertukar pandangan, saling menguatkan “ketidakyakinan terhadap keyakinan," dan mencemooh semua hal yang menyangkut agama—terutama Islam. Di dunia maya mereka bebas berekspresi, meski mungkin dalam keseharian di dunia nyata lebih banyak mengenakan topeng. Jadi, tanpa kita ketahui, mungkin saja salah seorang dari mereka adalah kerabat kita, rekan kerja, teman kuliah, atau tetangga. We'll never know.

Di negara-negara yang tidak menganggap atheisme sebagai pelanggaran terhadap konstitusi, mungkin lebih mudah mengetahui keberadaan mereka. Menurut sosiolog Phil Zuckerman, secara kasar jumlah orang yang “tidak punya keyakinan” di seluruh dunia adalah antara 500 sampai 700 juta, dengan Cina dan Rusia sebagai kontributor terbanyak. Sementara studi yang dilakukan Pew Research Center (sebuah lembaga riset yang cukup ternama) menyebut 16% dari populasi dunia adalah kalangan yang “tidak terafiliasi ke agama apa pun” (unaffiliated). Di Amerika Serikat populasi unaffiliated ini terus meningkat. Tahun 2007, kalangan atheis di AS hanya 1,6%. Tahun 2014 jumlahnya jadi dua kali lipat, 3,1%. Sementara ‘sepupu’ mereka, kalangan agnostik, meningkat dari 2,4% menjadi 4%. Itu belum termasuk kalangan yang menganggap “agama tidak penting” (nothing in particular) yang bertambah dari 12,1% menjadi 15,8%. Kalau mereka semua dikumpulkan, jumlahnya pada tahun 2014 mencakup 22,8% dari penduduk AS.

Bagaimana di wilayah-wilayah lain? Angka statistik memang kadang bikin puyeng, karena beda lembaga survei, beda pula hasilnya. Dan bisa dimaklumi, angka dari lembaga yang sama pun akan berbeda jika survei dilakukan pada waktu yang berbeda. Tambah jangar karena perbedaan definisi dan kategori juga membuat angka berbeda secara menyolok. Namun sebagai gambaran, kita ambil salah satu hasil survei yang menunjukkan bahwa populasi atheis itu bukan cuma ada di negara-negara Barat. Mungkin tidak terlalu mengejutkan kalau survei itu menyebutkan bahwa jumlah atheis di Inggris 25%, Prancis 40%, Belanda 30%, Jerman 27%, dan Jepang serta Cina masing-masing 32% dan 61%. Tapi jangan disangka di negara-negara Timur Tengah mereka tidak eksis. Walaupun prosentasenya kecil, mereka ada juga di kawasan tersebut. Populasinya, menurut survei tersebut, di negara Mesir 3,57%, Maroko 1%, Iran 5%, Arab Saudi 5% dan Turki 2,9%.

Bagaimana dengan di Indonesia? Hasil studi oleh WIN-Gallup International tahun 2014 menunjukkan jumlahnya ‘hanya’ 0,19%. Bandingkan dengan Malaysia yang mencapai 3%. Angka 0,19% mungkin kecil, tapi kalau kita kalikan dengan jumlah penduduk, itu artinya sekitar setengah juta jiwa! Benarkah sebanyak itu jumlah atheis di Indonesia? والله أعلمُ

#Memahami_Joker_Berpikir
Sejak lama saya penasaran bagaimana seseorang bisa menjadi atheis. Saya yakin menjadi atheis adalah keputusan yang teramat besar karena menyangkut banyak (bahkan mungkin semua) aspek kehidupan seseorang. Pastinya bukan ide yang melintas begitu saja ketika bangun pagi atau ketika sedang menunggu Abang Ojol datang membawa pesanan ayam geprek. Bagaimana seseorang bisa sampai pada titik “tidak percaya” pastinya melewati perjalanan panjang. Bagi banyak orang yang dibesarkan dalam keluarga beragama, menjadi atheis itu impossible. Tidak pernah terbersit. Namun nyatanya bukan cuma ada, melainkan banyak. Tahapan studi apa yang sebenarnya mereka jalani, sejauh apa riset mereka, dan seberapa dalam mereka berkontemplasi? Ataukah yang lebih berperan justru bukan keliaran berpikir, melainkan pengalaman emosional buruk yang membekas teramat dalam?

Lebih jauhnya saya ingin memahami bagaimana otak atheis bekerja. Harap dimaklumi, mencoba memahami, bukan berarti membenarkan. Ibarat melihat film “Joker,” kita menjadi tahu mengapa Arthur Fleck menjadi jahat, bukan berarti kita membenarkan kejahatannya. Mengapa hal ini harus dipahami? Karena yang saya perhatikan, khususnya di Indonesia, para atheis itu tidak murni sebagai "orang yang tidak percaya terhadap kepercayaan pada Tuhan" tetapi banyak yang punya aktivitas tambahan sebagai pembenci Islam. Mereka tidak terlalu galak terhadap ajaran dan pemeluk agama lain, seolah misi mereka menjadi atheis itu semata-mata menentang dan membenci Islam. Berbeda dengan para atheis di Barat sana, pandangan mereka lebih 'netral', bahwa semua agama cuma kekonyolan belaka.

Road to atheism itu sangat personal dan individual, berdasarkan kondisi yang sangat khusus, demikian kata seseorang. Mungkin yang dimaksud "sangat khusus" di sini adalah pengalaman pahit dalam hidup seseorang. Dan bagi sebagian mereka ‘pilihan’ menjadi atheis bukan hasil proses memilih. Mereka tidak percaya Tuhan, ya sudah. Bukan sengaja memilih jadi atheis, melainkan hanya konsekuensi dari ketidakpercayaan.

#Dinyatakan_tanpa_Bukti_Ditolak_tanpa_Bukti
Akar dari ketidakpercayaan mereka, sebagaimana mungkin mudah diduga, adalah pemujaan pada akal dan logika. Segala sesuatu, bagi mereka, harus bisa masuk akal dan bisa dijelaskan dengan logika. Akan sia-sia meyakinkan mereka bahwa kemampuan akal dan logika manusia itu terbatas. Ada pernyataan yang kerap dikutip dari Christopher Hitchen, seorang "anti-theist" Inggris-Amerika yang menulis banyak buku. Pernyataan tersebut dikenal sebagai Hitchen’s Razor (philosophical razor adalah istilah untuk sebuah konsep yang bertujuan menyingkirkan penjelasan atau argumen yang tidak bisa diterima.) Begini bunyinya: “Hal yang bisa dinyatakan tanpa bukti, juga bisa ditolak tanpa bukti.” Pernyataan ini sebenarnya berasal dari kaidah hukum Latin: “Quod gratis asseritur, gratis negatur.”

Dalam pemahaman para atheis, karena konsep ketuhanan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, maka berdasarkan dalil di atas, bisa ditolak. Hal ini terkait dengan konsep dasar realitas. Kalangan atheis berpandangan bahwa dalam agama konsep realitas sudah diketahui dan itu diperoleh dari kitab suci. Tapi kitab suci tidak bisa diuji. Sedangkan menurut sains konsep dasar realitas itu belum diketahui. Perhatian sains adalah pada menemukan hakikat realitas tanpa berasumsi. Konsekuensinya, teori-teori ilmiah apa pun baru bisa diterima setelah lolos uji. Mereka berpandangan agama tidak tertarik untuk menguak kebenaran karena kebenaran tersebut sudah diketahui.

Analogi yang dikemukakan biasanya gambaran begini:

Seorang yang tidak Anda kenal mengetuk pintu rumah dan mengatakan bahwa anak Anda meninggal karena tertabrak di jalanan. Apakah Anda akan percaya? Kemudian ada seorang polisi berseragam datang dengan mobil dinas, mengabarkan hal yang sama. Percakayah Anda kali ini?

Banyak orang akan percaya kepada kabar dari polisi karena mereka punya otoritas untuk menyampaikan kabar demikian. (Sampai di sini para atheis menyamakan penganut beragama dengan mereka yang percaya pada polisi karena kabar dibawa oleh orang yang "punya otoritas.") Tapi menurut kalangan atheis, Anda tidak bisa mempercayai polisi sebelum melihat dengan mata kepala sendiri tubuh anak yang meninggal tertabrak.

Begitulah mereka menyikapi konsep ketuhanan. Karena mereka tidak bisa melihat dengan mata kepala sendiri, artinya tidak bisa dibuktikan. Dan ujung-ujungnya konsep tertolak. Sebagai turunannya, semua hal yang berkaitan dengan dan bersumber dari agama menjadi tidak ilmiah. Jika ada kajian atau buku yang mengupas hal-hal ilmiah, katakanlah misalnya tentang big bang theory (teori dentuman besar) yang disebut dalam Al Quran S 21: 30 dan Al Quran S 51: 47 (tentang the expanding universe atau jagat raya yang mengembang, seperti juga dirumuskan dalam Hubble's Law), bagi mereka adalah upaya membongkar misteri sains dengan dongeng. Kalaupun ada bukti ilmiah yang mendukung kebenaran Al Quran, itu hanyalah hasil dari cocoklogi. Ilmuwan kalau sudah bersinggungan dengan agama menjadi idiot. Karena ilmuwan tersebut hanya menyampaikan dongeng yang diilmiahkan, begitu menurut mereka.

#Moral_dengan_dan_tanpa_Agama
Karena konsep awal ketuhanan tidak mereka terima, maka demikian juga semua yang berhubungan dengannya. Mereka tidak dapat memahami bahwa ummat beragama yang beramal saleh di dunia akan mendapat ganjaran surga di akhirat. Dalam hal moral, mereka menilai diri sendiri lebih mulia karena mereka berbuat baik bukan lantaran mengharap pahala surga. Amal ibadah itu nol besar bagi mereka, yang penting moralitas yang baik. Dan untuk bermoral tidak perlu ber-Tuhan. Senjata yang dipakai untuk mengolok-olok ummat Islam adalah bahwa Muslim mau beriman dan beramal saleh karena diiming-imingi sex party dengan 72 bidadari. Seorang atheis pendukung berat Israel yang juga peraih Nobel untuk Fisika tahun 1979, Steven Weinberg mengatakan, “Dengan atau tanpa agama, orang baik bisa berbuat baik dan orang jahat bisa berbuat jahat; tapi bagi orang baik berlaku jahat—diperlukan agama.”

Mereka tidak habis pikir, bagaimana Muslim menganggap bahwa Islam menawarkan solusi bagi semua permasalahan hidup. Islam memberikan solusi, misalnya untuk yang berwajah suram maka tahajudlah, jika tidak bahagia salatlah awal waktu, jika emosi meningkat berwudlulah dan perbanyak istigfar, jika gelisah perbanyak doa dan ibadah, jika hati sempit bacalah Al Quran, jika hidup banyak beban perbanyaklah sedekah, jika mendapat tekanan banyak-banyak berdzikir, dan jika sakit berpuasalah. Hal-hal demikian tidak dapat diterima oleh akal mereka.

Mereka gusar dengan ghirah ummat Islam yang menginginkan sendi-sendi kehidupan pribadinya berdasarkan ajaran Islam. Bagi mereka itu semacam pemerkosaan terhadap nalar. Bagaimana mungkin kehidupan diatur oleh sesuatu yang absurd? Sedangkan untuk kondisi yang memerlukan deus ex machina saja Tuhan tak berdaya. Mengapa Tuhan tidak hadir di Aleppo, adalah pertanyaan klasik yang sering mereka lontarkan. Mereka terpingkal-pingkal mendengar ummat Islam menghubungkan datangnya musibah dengan banyaknya dosa. Dan karena (juga) tidak percaya dengan adanya syetan, mereka menganggap ajaran yang menyebut bahwa syetan musuh nyata manusia dan akan selalu berusaha menjerumuskan manusia, sebagai ajaran menyesatkan. Sebagai upaya manusia mencari kambing hitam. Berdosa karena nafsu kok menyalahkan syetan, kata mereka.

Apalagi kalau ghirah itu juga diterapkan untuk kehidupan sosial bermasyarakat. Karena hal tersebut akan mempengaruhi cara orang berinteraksi satu sama lain. Bayangkan bagaimana memuncaknya kegusaran itu manakala banyak ummat yang menghendaki bukan hanya sendi-sendi kehidupan bermasyarakat saja yang berlandaskan agama, tapi dalam skala yang lebih luas, dalam bernegara. Semacam ada ancaman bahwa keberlangsungan “spesies” mereka tidak akan bertahan dalam upaya survival of the fittest.

#Gusar_akan_Ghirah
Jadi bisa dimaklumi bagaimana mereka risau betapa banyaknya kehidupan ummat Islam mengacu kepada aturan yang ditetapkan Tuhan. Misalnya pemisahan wanita dan pria dalam suatu majelis. Acara pernikahan yang memisahkan antara tamu wanita dan pria saja bisa membuat mereka tidak bisa tidur semalaman karena gundahnya. Mereka membandingkan foto anak SMA masa kini dengan foto serupa puluhan tahun lalu. Dulu, foto siswa-siswi itu begitu “alami” tanpa ada diferensiasi. Sekarang para siswinya sebagian berhijab. Memperlihatkan, apalagi menonjolkan identitas keagamaan itu dinilai suatu yang “tidak ramah" alias mengancam. Untuk alasan yang sama mereka tidak menyukai ummat yang bercelana cingkrang, kecuali kalau dia Keanu Reeves atau artis Korea. Ketika mengetahui bahwa beberapa lembaga pendidikan memberi fasilitas khusus dalam proses penerimaan bagi hafidz Quran, mereka menilai dunia pendidikan sudah “dikotori” paham garis keras. Suara-suara khawatir juga muncul ketika pemuda Enzo tetap diterima di pendidikan militer, setelah banyak berita simpang-siur yang menghubungkan dirinya dengan Islam garis keras. Apa jadinya kalau suatu saat dia menjadi panglima, tanya mereka.

Dalam tataran hidup bernegara, aturan yang mengakomodir ummat Islam merupakan pengekangan bagi kebebasan mereka. Mereka memandang memilih pemimpin berdasarkan kesamaan keyakinan atau karena harapan terakomodirnya tuntutan agama merupakan salah sebuah kebodohan yang diakibatkan oleh doktrin agama. Tidak peduli seberapa pintar dan bagus kinerja pemimpin yang membawa citra islami, bagi mereka semua nol besar. Karena pemimpin Muslim tidak ada yang benar. Kalaupun ada pemimpin beragam Islam, dia tidak boleh menonjolkan keislamannya, apalagi membuat kebijakan didasari kepentingan Islam. Dengan mengutip data serampangan, mereka selalu mengatakan bahwa di negara-negara mayoritas Islam kondisi umumnya adalah tingkat kemiskinan dan kejahatan tinggi, tingkat pendidikan rendah, dan Human Development Index jeblok. Miriplah dengan yang disampaikan seorang dosen kontroversial di Jakarta dalam sebuah video baru-baru ini.

Agama tidak usah ikut mencampuri urusan negara, selalu itu yang digembar-gemborkan. Tetapi ketika ditanyakan mengapa duit zakat dan haji boleh dipakai pemerintah untuk pembangunan infrastruktur, mereka menjawab: agama memang tidak boleh mencampuri urusan negara, tapi negara boleh mencampuri agama.

#Battle_of_Thoughts
Karena mereka tidak ingin “pengaruh Islam” itu semakin mengganggu “ketenteraman” hidup mereka, maka mereka akan melakukan apa pun untuk menghentikannya. “If you expect me to keep my atheism quiet, then I expect you to keep your religion quiet. You love the freedom of religion and I love the freedom from religion.” Jika ada pemimpin yang memberi peluang pada Islam, mereka akan serang dan hancurkan nama dan karirnya dengan apa yang mereka bisa. Kalau ada berita yang menyudutkan ummat Islam, mereka akan dengan senang hati menyebarkannya, tidak peduli berita tersebut benar atau tidak. Prinsip kritis terhadap sumber berita menjadi tidak berlaku sepanjang isinya menyudutkan Islam. Dan mereka dengan senang hati menjadi cheerleaders jika pertentangan antar-ummat Muslim muncul di panggung massa. Sedangkan berita adanya warga Kurdi Irak yang memeluk kembali Zoroaster (Majusi) saja mereka sambut dengan suka cita. Tapi mereka diam seribu bahasa ketika beredar berita tentang pasien Muslim di sebuah yayasan di Sumut yang dipaksa pindah keyakinan. Atau berita seseorang melempari masjid dengan kotoran. Dan masih banyak berita sejenisnya.

Makanan empuk mereka adalah berita tentang kalangan beragama apalagi tokoh agama berbuat skandal. Jagankan berbuat salah, berbuat benar saja dicari-cari kesalahannya. Mereka seperti sekumpulan piranha yang berenang ke sana ke mari di bawah permukaan Sungai Amazon. Mereka serentak berpesta ria jika ada drama semisal pelemparan panci, penusukan dengan invisible knife dan sejenisnya yang dinisbatkan pada ummat Islam. Itu adalah momen yang ditunggu karena merupakan kesempatan untuk menyudutkan Islam. Berita-berita negatif terkait Islam (dari mana pun sumbernya dan betapa pun aneh skenarionya) ibarat keratan daging yang dilempar ke Sungai Amazon. Mereka akan berebutan melahapnya. Bedanya kalau piranha melahap sampai habis, mereka menggorengnya sampai titik air liur penghabisan.

Hal-hal yang membuat mereka senang adalah ketika ada sebagian ummat Islam membubarkan pengajian sesama Muslim. Atau penghadangan terhadap ustadz tertentu, atau bahkan pemenjaraan ustadz. Bagi mereka, apa yang dilakukan seorang pejabat belakangan ini dengan mempermasalahkan celana cingkrang, niqab, dan isu Islam radikal, adalah upaya pemberantasan kegoblokan. Apa yang disampaikan Din Syamsudin bahwa “Wacana anti radikalisme menyakiti ummat Islam” bagi mereka adalah pembenaran bahwa logikanya Islam adalah radikalisme. Intinya mereka tidak ingin Islam semakin berkembang. Kalaupun Islam mayoritas, tidak perlulah menunjukkan identitas keislaman. Mereka setuju dengan adanya larangan celana cingkrang atau niqab, atau apa pun yang bisa mengerem laju perkembangan Islam, karena dengan begitu, bagi mereka, Indonesia kembali menjadi Indonesia.

Entah bagaimana impian mereka tentang Indonesia.

Kisah Mistis Menara Saidah - By Rini Fatmawati (Komunitas Bisa Menulis)

Bagi masyarakat Jakarta, terutama yang berdomisili di Jakarta Timur, sudah barang tentu kenal dengan Menara Saidah. Menara ini kondisinya sekarang dibiarkan begitu saja, tanpa ada yang merawat. Karena dikosongkan sudah lama, menara 28 lantai ini seolah-olah mengumpulkan energi negatif sehingga banyak sekali kejadian aneh, seperti cerita-cerita mistis yang menyelimuti gedung dengan arsitektur ala Eropa ini.

Info resmi menyebutkan gedung ini ditutup pada tahun 2007, dikarenakan struktur yang mengalami kemiringan sehingga tidak aman untuk ditinggali. Namun, masih meninggalkan banyak kontroversi. Karena menurut penuturan warga sekitar, gedung Menara Saidah dibangun di atas pemakaman yang belum sempat di pindahkan.

Karena rasa penasaran itulah kami berenam memutuskan untuk masuk ke dalam Menara Saidah untuk membuktikan kebenaran dari desas desus yang beredar. Kala itu, tahun 2011 akhir belum terlalu ramai pemberitaan tentang Menara Saidah. Tidak se-extream sekarang.

****

Malam itu sekitar desember 2011. Salah teman berkata,

"Minggu depan, kemana ya enaknya? Perasaan, udah keliling Jakarta belum nemu yang greget." Rei mulai membuka percakapan.

"Ke daerah Stasiun manggarai keren kayaknya. Bisa ketemu Noni belanda di sana," ujarku membalas Rei.

"Kurang serem di sana. Umm ... gimana, kalo ke Menara Saidah?" Doni memberi opsi lain.

"Hah! Menara Saidah!" Kami berlima berteriak serempak.

"Gue nggak setuju. Tempat lain aja napa, creepy banget itu tempat." Arma menolak usulan Doni.

"Kita juga nggak setuju." Vita dan Gilang mengucapkannya dengan kompak.

"Kalian napa sih, heran gue biasanya kemana aja nurut. Kan cuma masuk, liat-liat trus ambil foto udah." Doni masih bersikeras dengan usulannya.

"Kemana aja nurut kalo kita ber 20. Ini kita enam orang doang. Kenapa-napa bisa berabe nggak ada yang nolong." Aku berusaha membuat Doni agar tak melanjutkan ide gilanya itu.

"Gini aja besok yang libur kerja siapa? Cari informasi sebanyak-banyaknya gimana cara masuk sana? Dan kalo perlu nyogok security berapa duit biar ngijinin kita masuk?" Doni membuat keputusan dengan sendirinya. Dan kamipun mengiyakannya saja karena tak ingin berdebat lebih lanjut.

Esok harinya, sekitar pukul empat sore, aku dan Arma mendapatkan tugas mencari tahu tentang Menara Saidah. Awalnya security tersebut tak mau memberi informasi. Namun setelah dibujuk dan diberi sejumlah uang akhirnya mau sedikit memberi informasi kepada kami. Ya iyalah, waktu itu securitynya masih saudaranya Arma. Hehehe.

Menara Saidah adalah nama sebuah gedung yang berfungsi sebagai pusat perkantoran dan terletak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Indonesia lebih tepatnya dekat cawang. Sebelumnya, nama gedung ini adalah Gedung Grancindo dan didirikan lama sebelum kemudian direnovasi besar besaran menjadi Menara Saidah.

Nama yang diberikan pada gedung ini diambil dari nama pemiliknya, Saidah Abu Bakar Ibrahim. Gedung ini diresmikan pada tahun 2001. Kekhasan gedung ini adalah desainnya dengan patung-patung bernuansa Romawi diimpor dari Italia. Desain interiornya menggunakan "sentuhan Las Vegas" dengan langit-langit bagian lobi yang nuansanya bisa diganti. Gedung ini memiliki 28 lantai, dibangun pada tahun 1995 hingga 1998 oleh PT. Hutama Karya dan merupakan gedung tinggi pertama yang dibangun oleh kontraktor tersebut. Renovasi besar-besaran ini dilakukan termasuk menambah ketinggian gedung awal yang 15 lantai menjadi 28 lantai. Pada tahun 2007 gedung ini resmi ditutup untuk umum karena pondasi gedung tidak tegak berdiri dan miring beberapa derajat serta dianggap membahayakan keselamatan penghuni gedung. Konstruksinya dianggap bermasalah sejak awal, namun dari pihak pemilik maupun Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) tidak ada yang bersedia memberikan penjelasan.

Rahmat, salah satu petugas keamanan yang pernah bekerja selama delapan tahun di gedung tersebut menuturkan pada tahun 2007 pemutusan hubungan kerja dilakukan secara sepihak, dan hingga hari ini ratusan karyawan belum memperoleh pesangon.

Itulah sepenggal cerita asal usul Menara Saidah. Setelah mendengar penjelasannya, security tersebut mengajak kami masuk ke dalam untuk melihat lihat.

Aroma mistis langsung menyeruak saat kami masuk melalui pintu depan bagian lobi. Patung besar bergaya eropa langsung menyambut kami. Arma sempat berteriak saat melihat patung itu. Matanya seolah-olah mengikuti kemana pun kami melangkah. Aku segera membekap mulutnya dengan tanganku. Gawat kalau membuat keributan. Sangat bahaya.

"Anjir, baru juga jam setengah lima sore. Udah creepy gini. Serius, Rin mau lanjut?" Arma berbisik di telingaku. Aku mengganguk karena sudah terlanjur masuk.

Jadilah kami melakukan tour layaknya room tour. Namun, ditemani oleh dua orang security. Menuju ke lantai dua kami disambut suara berdecit dan juga bau busuk yang menyengat. Ada puluhan ekor tikus dan juga bangkai kelelawar tergeletak di lantai yang sudah sudah terlihat sangat kotor itu.

"Hati-hati, disini banyak kelelawar," ucap salah seorang security itu.

Kami pun menatap ke langit-langit lantai dua. Dan benar saja ada banyak sekali kelelawar tergantung di sana. Lalu, kami melanjutkan menuju lantai tiga. Di lantai inilah bulu kuduk kami seolah sedang berbaris rapi. Rasa dingin disertai panas tubuh yang tidak wajar. Beberapa bayangan hitam tampak berseliweran di antara kami berdua. Anehnya, security itu seperti tidak merasa apa-apa malah sesekali menyorotkan senternya kepada kami. Mereka berdua tergelak melihat wajah kami yang cukup pucat pasi akibat ketakutan. Meskipun kami berdua--aku dan Arma-- memang terbiasa melihat mahluk tak kasat mata tapi sejujurnya rasa takut pasti ada apalagi gedung ini sangat gelap. Ya, kami fobia gelap.

"Udah ya, Mbak, Mas saya cuma diijinkan sampai lantai tiga. Sekarang kita turun lagi." Security itu meminta kami turun. Agak kecewa karena kami masih penasaran dengan lantai selanjutnya.

Malam hari kami membicarakan apa yang aku alami kepada Doni. Berharap dia mau mengerti dan mengganti usulannya itu. Namun, kami salah bukannya takut dia malah makin penasaran dengan gedung itu. Emang dasar Doni udah gila pikirannya.
Mungkin kalimat itu yang ada dalam pikiran kami berlima. Lebih parahnya, lagi dia mengajak untuk masuk ke sana dengan cara 'ilegal'. Yaitu masuk diam-diam tanpa di ketahui security.

Perlu di ketahui sekalipun Menara Saidah sudah kosong sejak 2007 namun masih di jaga ketat oleh security. Di bagian depan gedung ada tujuh orang. Sementara di basement ada tiga orang. Ini cukup sulit sebenarnya. Namun, rasa penasaran kami semakin menjadi hingga akhirnya memutuskan berangkat ke sana minggu depan.

****

Hari yang dijanjikan tiba, kami berenam berembuk bagaimana cara masuk ke sana tanpa ketahuan security?

Pukul dua belas malam, kami mulai bergerak dengan mengendarai mobil milik Doni. Lalu berhenti di sekitar stasiun cawang. Doni memarkirkan mobilnya lalu mengajak kami berenam berjalan kaki melalu samping Menara Saidah. Karena letaknya lebih tinggi kami sedikit memanjat pagar, lalu turun tepat di belakang gedung. Tak di sangka ada sebuah sumur tua yang tak jauh dari pintu masuk belakang gedung.

Saat kami sedang menyelinap dan berusaha membuka pintu belakang gedung. Ada dua orang security sempat mengarahkan senternya ke pada kami. Beruntung kami berhasil lari. Kami bersembunyi di antara rumput-rumput tebal, pohon dan ranting-ranting yang rimbun. Berasa seperti di 'game call of dutty'. Hahaha.

Lalu akhirnya kami bisa lolos setelah ngestuck selama setengah jam di sana. Kami langsung masuk ke basement gedung tersebut untuk mencari pintu tangga darurat. Setibanya di sana kami terkejut. Ruangan basement sangat amat bau bangkai dan sampah-sampah berserakan. Terdapat lubang besar, jika seseorang tercebur ke dalamnya sudah dipastikan akan berenang di genangan air bercampur sampah yang sangat bau.

Udara panas sangat terasa. Baru beberapa langkah menuju tangga darurat, terdengar suara cekikikan dan tangisan bayi di ujung basement. Kami pun lari tunggang langgang menaiki tangga darurat. Pegangan tangga yang harusnya berwarna merah sudah ditutupi debu hingga menjadi berwarna coklat. Saking panasnya udara di dalam, sampai teman-temanku yang laki-laki membuka kaus yang mereka pakai. Hahaha. Kecuali kami berdua--aku dan Vita--.

Satu-satunya akses untuk naik ke atas gedung ini hanya satu, yaitu melewati tangga darurat ini. Bagi yang melewati tangga darurat ini, mereka akan stuck di tangga lantai satu untuk naik ke lantai dua. karena disana ditutup oleh besi, kayu dan lemari. Namun, saat itu kami sedang beruntung sehingga bisa menyelinap lewat sisi lemari, 'kebetulan saat itu kami kurus-kurus'. Hehehe.

Naik ke lantai dua, kami keluar pintu darurat. Namun, lagi-lagi kami disambut oleh sorot senter para security. Astaga padahal sudah pukul satu malam. Kami pun bergegas masuk ke pintu menuju tangga darurat untuk menuju lantai tiga.

Perjalanan selama di tangga darurat inilah yang menyeramkan.

"Lang, tangan lo diem napa? Nggak usah pegang-pegang pundak gue!" Doni yang berjalan paling depan memarahi Gilang.

"Eh, kunyuk, sapa juga yang megang lu. Gue dari tadi megang senter!" Teriak Gilang.

"Ini juga, Napa lu Rei, towel-towel pinggang gue. Dasar mesum," sungut Vita menjewer telinga Rei.

"Eh, sekate-kate lu ya. Tangan gue megang kamera segede Hulk. Ngapain juga nowel elu." Rei terlihat manyun sambil menggerutu.

Arma dan aku saling pandang melihat keributan mereka. Kalau semua tidak merasa menganggu satu sama lain, lalu siapa yang melakukannya? Entahlah.

Tiba-tiba terdengar langkah sepatu di tangga bagian bawah. Hmm ... sepertinya ada sesorang hendak naik. Gawat bisa ketahuan kalau begini, aku meminta Doni yang dibagian paling depan untuk berjalan menaiki tangga lebih cepat. Kami berlari sambil menaiki tangga dengan napas kembang kempis. Suara langkah sepatu menghilang. Namun, berganti menjadi suara nyanyian wanita seperti bersenandung. Mengalun perlahan dan sukses membuat level rasa takut kami berada diatas rata-rata. Peluh membanjiri pakaian yang kami kenakan. Kepalang tanggung, kami sudah sampai tangga lantai empat menuju lantai lima. Tiap sampai di lantai berikutnya kami beristirahat sekitar lima menit. Dan melanjutkan menaiki tangga lagi.

Anehnya, setiap kami menaiki anak tangga pasti terdengar suara langkah sepatu, seperti sepatu pantofel berhak rendah yang biasa dipakai para pekerja kantoran. Padahal jelas-jelas kami berenam memakai sepatu kets jadi tak mungkin menimbulkan suara. Dan suara itu menghilang saat kami berhenti.

Ada sekitar 26 lantai kalau aku tidak salah. Jadi kami harus menaiki tangga hingga 26 kali dengan keadaan ngos-ngosan, ketakutan dan amat sangat pengap, panas, dan bau bangkai.

Ada kejadian horor dan cukup menakutkan bagi kami. Tepatnya di lantai enam, tujuh dan delapan. Entah kenapa kami penasaran dengan ketiga ruangan tersebut. Kami keluar tangga darurat di lantai enam dan sampai di ruangan yang sangat luas akan tetapi keadaan ruangannya sangat memprihatinkan. Seluruh ubinnya sudah di cabut sepertinya di curi oleh warga sekitar. Banyak kaca yang sudah pecah, plafon pun sudah banyak yang jebol.

Gilang dan Doni sedang asyik mengambil gambar dengan kamera mereka. Sementara aku mulai merasakan hawa tidak nyaman. Seperti ada sosok yang memperhatikan kami dari jauh.

Terdengar pekikkan suara Arma dan Vita. Aku baru sadar jika mereka berdua tak terlihat di sampingku. Padahal sudah diperingatkan jangan terpisah dari rombongan.

"Kenapa, kalian? Liat apaan?!" Aku menanyai mereka yang terdengar ketakutan.

"A ... a ... da, kaki melayang di sana." Arma dan Vita menunjuk ke arah jendela.

Segera ku sorot jendela itu menggunakan senter. Bukan kaki yang terlihat sorot senterku melainkan mahluk hitam bertaring yang merangkak di jendela.

"Huwaaaaa ... !" Kami bertiga berlari menuju pintu masuk tangga darurat.

Kulihat Doni, Gilang dan Rei berlari mendekat. Mereka tampak panik mendengar teriakan kami.

"Cuy, kalian kenapa? Liat setan ya?" Doni dengan santai mengajukan pertanyaan sambil senyum mengejek.

"Bukan setan lagi kalo yang tadi. Itu mah bapaknya setan. Serem gila! mukanya blasteran leak sama kunti." Gilang menjawab dengan suara bergetar.

"Tadi, ada yang liat cewek baju merah nggak sih?" tanya Rei.

"Nggak, ada," balas kami serempak.

"Huft ... untung nggak ada yang liat. Gue tadi pas mau foto dekat meja kantor tadi, ada cewek berdiri pake gaun merah. Pas gue senter mukanya astaga itu muka apa gilasan cucian. Rata cuy mana lehernya hampir putus lagi." Rei bercerita dengan mendetail.

Kami pun berteriak kembali mendengar cerita Rei. Lantai demi lantai kami naiki sambil sesekali menoleh. Aku sesekali melihat sosok bergaun merah itu. Yang sepertinya mengikuti kami sejak dari lantai enam.
Beberapa kali kami masih mendengar teriakan dan juga tangisan saling bersahutan. Suaranya memantul di dinding tangga darurat.

Di lantai delapan kami pun membuka pintu darurat dan kembali menemukan ruangan yang luas. Namun ternyata di sanalah pusat dari segala mahluk tak kasat mata tinggal.

Pintu di buka kami melihat puluhan bocah hitam berkepala plontos berlarian. Awalnya kami anggap biasa saja. Namun, kami terkejut saat melihat salah satu dari mereka bertaring dan berlumuran darah. Berjalan menghampiri kami. Secepatnya kami tutup pintu dan kembali menaiki anak tangga.

Kami terus naik hingga waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Tak terasa kami tiba di lantai ke 27 itu artinya kami akan sampai di Rooftop.

Sesampai di atas kami pun amat sangat senang, karena bisa menghirup udara yang segar dan amat dingin. Tubuh yang tadinya basah kuyup karena keringat jadi seger kembali. Pemandangan di atas pun begitu indah.

Setelah istirahat kami langsung keatas menara yang terbuat dari kaca. Cukup lama kami di atas mengumpulkan energi untuk turun kembali dan menunggu pagi menjelang. Alasannya adalah kami masih takut bertemu sosok wanita bergaun merah. Yang bahkan saat kami sudah di atas menara, sosok itu masih saja mengintip di balik pintu masuk tangga darurat.

Sekian, sedikit cerita pengalaman kami saat explore ke menara saidah.

Kalau masih kurang seram. Jajalen dewe. Hehehe.

Dari saya anggota ghost hunter yang lagi hiatus.