Wednesday, November 6, 2019

Kisah Mistis Menara Saidah - By Rini Fatmawati (Komunitas Bisa Menulis)

Bagi masyarakat Jakarta, terutama yang berdomisili di Jakarta Timur, sudah barang tentu kenal dengan Menara Saidah. Menara ini kondisinya sekarang dibiarkan begitu saja, tanpa ada yang merawat. Karena dikosongkan sudah lama, menara 28 lantai ini seolah-olah mengumpulkan energi negatif sehingga banyak sekali kejadian aneh, seperti cerita-cerita mistis yang menyelimuti gedung dengan arsitektur ala Eropa ini.

Info resmi menyebutkan gedung ini ditutup pada tahun 2007, dikarenakan struktur yang mengalami kemiringan sehingga tidak aman untuk ditinggali. Namun, masih meninggalkan banyak kontroversi. Karena menurut penuturan warga sekitar, gedung Menara Saidah dibangun di atas pemakaman yang belum sempat di pindahkan.

Karena rasa penasaran itulah kami berenam memutuskan untuk masuk ke dalam Menara Saidah untuk membuktikan kebenaran dari desas desus yang beredar. Kala itu, tahun 2011 akhir belum terlalu ramai pemberitaan tentang Menara Saidah. Tidak se-extream sekarang.

****

Malam itu sekitar desember 2011. Salah teman berkata,

"Minggu depan, kemana ya enaknya? Perasaan, udah keliling Jakarta belum nemu yang greget." Rei mulai membuka percakapan.

"Ke daerah Stasiun manggarai keren kayaknya. Bisa ketemu Noni belanda di sana," ujarku membalas Rei.

"Kurang serem di sana. Umm ... gimana, kalo ke Menara Saidah?" Doni memberi opsi lain.

"Hah! Menara Saidah!" Kami berlima berteriak serempak.

"Gue nggak setuju. Tempat lain aja napa, creepy banget itu tempat." Arma menolak usulan Doni.

"Kita juga nggak setuju." Vita dan Gilang mengucapkannya dengan kompak.

"Kalian napa sih, heran gue biasanya kemana aja nurut. Kan cuma masuk, liat-liat trus ambil foto udah." Doni masih bersikeras dengan usulannya.

"Kemana aja nurut kalo kita ber 20. Ini kita enam orang doang. Kenapa-napa bisa berabe nggak ada yang nolong." Aku berusaha membuat Doni agar tak melanjutkan ide gilanya itu.

"Gini aja besok yang libur kerja siapa? Cari informasi sebanyak-banyaknya gimana cara masuk sana? Dan kalo perlu nyogok security berapa duit biar ngijinin kita masuk?" Doni membuat keputusan dengan sendirinya. Dan kamipun mengiyakannya saja karena tak ingin berdebat lebih lanjut.

Esok harinya, sekitar pukul empat sore, aku dan Arma mendapatkan tugas mencari tahu tentang Menara Saidah. Awalnya security tersebut tak mau memberi informasi. Namun setelah dibujuk dan diberi sejumlah uang akhirnya mau sedikit memberi informasi kepada kami. Ya iyalah, waktu itu securitynya masih saudaranya Arma. Hehehe.

Menara Saidah adalah nama sebuah gedung yang berfungsi sebagai pusat perkantoran dan terletak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Indonesia lebih tepatnya dekat cawang. Sebelumnya, nama gedung ini adalah Gedung Grancindo dan didirikan lama sebelum kemudian direnovasi besar besaran menjadi Menara Saidah.

Nama yang diberikan pada gedung ini diambil dari nama pemiliknya, Saidah Abu Bakar Ibrahim. Gedung ini diresmikan pada tahun 2001. Kekhasan gedung ini adalah desainnya dengan patung-patung bernuansa Romawi diimpor dari Italia. Desain interiornya menggunakan "sentuhan Las Vegas" dengan langit-langit bagian lobi yang nuansanya bisa diganti. Gedung ini memiliki 28 lantai, dibangun pada tahun 1995 hingga 1998 oleh PT. Hutama Karya dan merupakan gedung tinggi pertama yang dibangun oleh kontraktor tersebut. Renovasi besar-besaran ini dilakukan termasuk menambah ketinggian gedung awal yang 15 lantai menjadi 28 lantai. Pada tahun 2007 gedung ini resmi ditutup untuk umum karena pondasi gedung tidak tegak berdiri dan miring beberapa derajat serta dianggap membahayakan keselamatan penghuni gedung. Konstruksinya dianggap bermasalah sejak awal, namun dari pihak pemilik maupun Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) tidak ada yang bersedia memberikan penjelasan.

Rahmat, salah satu petugas keamanan yang pernah bekerja selama delapan tahun di gedung tersebut menuturkan pada tahun 2007 pemutusan hubungan kerja dilakukan secara sepihak, dan hingga hari ini ratusan karyawan belum memperoleh pesangon.

Itulah sepenggal cerita asal usul Menara Saidah. Setelah mendengar penjelasannya, security tersebut mengajak kami masuk ke dalam untuk melihat lihat.

Aroma mistis langsung menyeruak saat kami masuk melalui pintu depan bagian lobi. Patung besar bergaya eropa langsung menyambut kami. Arma sempat berteriak saat melihat patung itu. Matanya seolah-olah mengikuti kemana pun kami melangkah. Aku segera membekap mulutnya dengan tanganku. Gawat kalau membuat keributan. Sangat bahaya.

"Anjir, baru juga jam setengah lima sore. Udah creepy gini. Serius, Rin mau lanjut?" Arma berbisik di telingaku. Aku mengganguk karena sudah terlanjur masuk.

Jadilah kami melakukan tour layaknya room tour. Namun, ditemani oleh dua orang security. Menuju ke lantai dua kami disambut suara berdecit dan juga bau busuk yang menyengat. Ada puluhan ekor tikus dan juga bangkai kelelawar tergeletak di lantai yang sudah sudah terlihat sangat kotor itu.

"Hati-hati, disini banyak kelelawar," ucap salah seorang security itu.

Kami pun menatap ke langit-langit lantai dua. Dan benar saja ada banyak sekali kelelawar tergantung di sana. Lalu, kami melanjutkan menuju lantai tiga. Di lantai inilah bulu kuduk kami seolah sedang berbaris rapi. Rasa dingin disertai panas tubuh yang tidak wajar. Beberapa bayangan hitam tampak berseliweran di antara kami berdua. Anehnya, security itu seperti tidak merasa apa-apa malah sesekali menyorotkan senternya kepada kami. Mereka berdua tergelak melihat wajah kami yang cukup pucat pasi akibat ketakutan. Meskipun kami berdua--aku dan Arma-- memang terbiasa melihat mahluk tak kasat mata tapi sejujurnya rasa takut pasti ada apalagi gedung ini sangat gelap. Ya, kami fobia gelap.

"Udah ya, Mbak, Mas saya cuma diijinkan sampai lantai tiga. Sekarang kita turun lagi." Security itu meminta kami turun. Agak kecewa karena kami masih penasaran dengan lantai selanjutnya.

Malam hari kami membicarakan apa yang aku alami kepada Doni. Berharap dia mau mengerti dan mengganti usulannya itu. Namun, kami salah bukannya takut dia malah makin penasaran dengan gedung itu. Emang dasar Doni udah gila pikirannya.
Mungkin kalimat itu yang ada dalam pikiran kami berlima. Lebih parahnya, lagi dia mengajak untuk masuk ke sana dengan cara 'ilegal'. Yaitu masuk diam-diam tanpa di ketahui security.

Perlu di ketahui sekalipun Menara Saidah sudah kosong sejak 2007 namun masih di jaga ketat oleh security. Di bagian depan gedung ada tujuh orang. Sementara di basement ada tiga orang. Ini cukup sulit sebenarnya. Namun, rasa penasaran kami semakin menjadi hingga akhirnya memutuskan berangkat ke sana minggu depan.

****

Hari yang dijanjikan tiba, kami berenam berembuk bagaimana cara masuk ke sana tanpa ketahuan security?

Pukul dua belas malam, kami mulai bergerak dengan mengendarai mobil milik Doni. Lalu berhenti di sekitar stasiun cawang. Doni memarkirkan mobilnya lalu mengajak kami berenam berjalan kaki melalu samping Menara Saidah. Karena letaknya lebih tinggi kami sedikit memanjat pagar, lalu turun tepat di belakang gedung. Tak di sangka ada sebuah sumur tua yang tak jauh dari pintu masuk belakang gedung.

Saat kami sedang menyelinap dan berusaha membuka pintu belakang gedung. Ada dua orang security sempat mengarahkan senternya ke pada kami. Beruntung kami berhasil lari. Kami bersembunyi di antara rumput-rumput tebal, pohon dan ranting-ranting yang rimbun. Berasa seperti di 'game call of dutty'. Hahaha.

Lalu akhirnya kami bisa lolos setelah ngestuck selama setengah jam di sana. Kami langsung masuk ke basement gedung tersebut untuk mencari pintu tangga darurat. Setibanya di sana kami terkejut. Ruangan basement sangat amat bau bangkai dan sampah-sampah berserakan. Terdapat lubang besar, jika seseorang tercebur ke dalamnya sudah dipastikan akan berenang di genangan air bercampur sampah yang sangat bau.

Udara panas sangat terasa. Baru beberapa langkah menuju tangga darurat, terdengar suara cekikikan dan tangisan bayi di ujung basement. Kami pun lari tunggang langgang menaiki tangga darurat. Pegangan tangga yang harusnya berwarna merah sudah ditutupi debu hingga menjadi berwarna coklat. Saking panasnya udara di dalam, sampai teman-temanku yang laki-laki membuka kaus yang mereka pakai. Hahaha. Kecuali kami berdua--aku dan Vita--.

Satu-satunya akses untuk naik ke atas gedung ini hanya satu, yaitu melewati tangga darurat ini. Bagi yang melewati tangga darurat ini, mereka akan stuck di tangga lantai satu untuk naik ke lantai dua. karena disana ditutup oleh besi, kayu dan lemari. Namun, saat itu kami sedang beruntung sehingga bisa menyelinap lewat sisi lemari, 'kebetulan saat itu kami kurus-kurus'. Hehehe.

Naik ke lantai dua, kami keluar pintu darurat. Namun, lagi-lagi kami disambut oleh sorot senter para security. Astaga padahal sudah pukul satu malam. Kami pun bergegas masuk ke pintu menuju tangga darurat untuk menuju lantai tiga.

Perjalanan selama di tangga darurat inilah yang menyeramkan.

"Lang, tangan lo diem napa? Nggak usah pegang-pegang pundak gue!" Doni yang berjalan paling depan memarahi Gilang.

"Eh, kunyuk, sapa juga yang megang lu. Gue dari tadi megang senter!" Teriak Gilang.

"Ini juga, Napa lu Rei, towel-towel pinggang gue. Dasar mesum," sungut Vita menjewer telinga Rei.

"Eh, sekate-kate lu ya. Tangan gue megang kamera segede Hulk. Ngapain juga nowel elu." Rei terlihat manyun sambil menggerutu.

Arma dan aku saling pandang melihat keributan mereka. Kalau semua tidak merasa menganggu satu sama lain, lalu siapa yang melakukannya? Entahlah.

Tiba-tiba terdengar langkah sepatu di tangga bagian bawah. Hmm ... sepertinya ada sesorang hendak naik. Gawat bisa ketahuan kalau begini, aku meminta Doni yang dibagian paling depan untuk berjalan menaiki tangga lebih cepat. Kami berlari sambil menaiki tangga dengan napas kembang kempis. Suara langkah sepatu menghilang. Namun, berganti menjadi suara nyanyian wanita seperti bersenandung. Mengalun perlahan dan sukses membuat level rasa takut kami berada diatas rata-rata. Peluh membanjiri pakaian yang kami kenakan. Kepalang tanggung, kami sudah sampai tangga lantai empat menuju lantai lima. Tiap sampai di lantai berikutnya kami beristirahat sekitar lima menit. Dan melanjutkan menaiki tangga lagi.

Anehnya, setiap kami menaiki anak tangga pasti terdengar suara langkah sepatu, seperti sepatu pantofel berhak rendah yang biasa dipakai para pekerja kantoran. Padahal jelas-jelas kami berenam memakai sepatu kets jadi tak mungkin menimbulkan suara. Dan suara itu menghilang saat kami berhenti.

Ada sekitar 26 lantai kalau aku tidak salah. Jadi kami harus menaiki tangga hingga 26 kali dengan keadaan ngos-ngosan, ketakutan dan amat sangat pengap, panas, dan bau bangkai.

Ada kejadian horor dan cukup menakutkan bagi kami. Tepatnya di lantai enam, tujuh dan delapan. Entah kenapa kami penasaran dengan ketiga ruangan tersebut. Kami keluar tangga darurat di lantai enam dan sampai di ruangan yang sangat luas akan tetapi keadaan ruangannya sangat memprihatinkan. Seluruh ubinnya sudah di cabut sepertinya di curi oleh warga sekitar. Banyak kaca yang sudah pecah, plafon pun sudah banyak yang jebol.

Gilang dan Doni sedang asyik mengambil gambar dengan kamera mereka. Sementara aku mulai merasakan hawa tidak nyaman. Seperti ada sosok yang memperhatikan kami dari jauh.

Terdengar pekikkan suara Arma dan Vita. Aku baru sadar jika mereka berdua tak terlihat di sampingku. Padahal sudah diperingatkan jangan terpisah dari rombongan.

"Kenapa, kalian? Liat apaan?!" Aku menanyai mereka yang terdengar ketakutan.

"A ... a ... da, kaki melayang di sana." Arma dan Vita menunjuk ke arah jendela.

Segera ku sorot jendela itu menggunakan senter. Bukan kaki yang terlihat sorot senterku melainkan mahluk hitam bertaring yang merangkak di jendela.

"Huwaaaaa ... !" Kami bertiga berlari menuju pintu masuk tangga darurat.

Kulihat Doni, Gilang dan Rei berlari mendekat. Mereka tampak panik mendengar teriakan kami.

"Cuy, kalian kenapa? Liat setan ya?" Doni dengan santai mengajukan pertanyaan sambil senyum mengejek.

"Bukan setan lagi kalo yang tadi. Itu mah bapaknya setan. Serem gila! mukanya blasteran leak sama kunti." Gilang menjawab dengan suara bergetar.

"Tadi, ada yang liat cewek baju merah nggak sih?" tanya Rei.

"Nggak, ada," balas kami serempak.

"Huft ... untung nggak ada yang liat. Gue tadi pas mau foto dekat meja kantor tadi, ada cewek berdiri pake gaun merah. Pas gue senter mukanya astaga itu muka apa gilasan cucian. Rata cuy mana lehernya hampir putus lagi." Rei bercerita dengan mendetail.

Kami pun berteriak kembali mendengar cerita Rei. Lantai demi lantai kami naiki sambil sesekali menoleh. Aku sesekali melihat sosok bergaun merah itu. Yang sepertinya mengikuti kami sejak dari lantai enam.
Beberapa kali kami masih mendengar teriakan dan juga tangisan saling bersahutan. Suaranya memantul di dinding tangga darurat.

Di lantai delapan kami pun membuka pintu darurat dan kembali menemukan ruangan yang luas. Namun ternyata di sanalah pusat dari segala mahluk tak kasat mata tinggal.

Pintu di buka kami melihat puluhan bocah hitam berkepala plontos berlarian. Awalnya kami anggap biasa saja. Namun, kami terkejut saat melihat salah satu dari mereka bertaring dan berlumuran darah. Berjalan menghampiri kami. Secepatnya kami tutup pintu dan kembali menaiki anak tangga.

Kami terus naik hingga waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Tak terasa kami tiba di lantai ke 27 itu artinya kami akan sampai di Rooftop.

Sesampai di atas kami pun amat sangat senang, karena bisa menghirup udara yang segar dan amat dingin. Tubuh yang tadinya basah kuyup karena keringat jadi seger kembali. Pemandangan di atas pun begitu indah.

Setelah istirahat kami langsung keatas menara yang terbuat dari kaca. Cukup lama kami di atas mengumpulkan energi untuk turun kembali dan menunggu pagi menjelang. Alasannya adalah kami masih takut bertemu sosok wanita bergaun merah. Yang bahkan saat kami sudah di atas menara, sosok itu masih saja mengintip di balik pintu masuk tangga darurat.

Sekian, sedikit cerita pengalaman kami saat explore ke menara saidah.

Kalau masih kurang seram. Jajalen dewe. Hehehe.

Dari saya anggota ghost hunter yang lagi hiatus.

No comments:

Post a Comment