Bagi masyarakat Jakarta, terutama yang berdomisili di Jakarta Timur,
sudah barang tentu kenal dengan Menara Saidah. Menara ini kondisinya sekarang
dibiarkan begitu saja, tanpa ada yang merawat. Karena dikosongkan sudah lama,
menara 28 lantai ini seolah-olah mengumpulkan energi negatif sehingga banyak
sekali kejadian aneh, seperti cerita-cerita mistis yang menyelimuti gedung
dengan arsitektur ala Eropa ini.
Info resmi menyebutkan gedung ini ditutup pada tahun 2007, dikarenakan
struktur yang mengalami kemiringan sehingga tidak aman untuk ditinggali. Namun,
masih meninggalkan banyak kontroversi. Karena menurut penuturan warga sekitar,
gedung Menara Saidah dibangun di atas pemakaman yang belum sempat di pindahkan.
Karena rasa penasaran itulah kami berenam memutuskan untuk masuk ke
dalam Menara Saidah untuk membuktikan kebenaran dari desas desus yang beredar.
Kala itu, tahun 2011 akhir belum terlalu ramai pemberitaan tentang Menara
Saidah. Tidak se-extream sekarang.
****
Malam itu sekitar desember 2011. Salah teman berkata,
"Minggu depan, kemana ya enaknya? Perasaan, udah keliling Jakarta
belum nemu yang greget." Rei mulai membuka percakapan.
"Ke daerah Stasiun manggarai keren kayaknya. Bisa ketemu Noni
belanda di sana," ujarku membalas Rei.
"Kurang serem di sana. Umm ... gimana, kalo ke Menara
Saidah?" Doni memberi opsi lain.
"Hah! Menara Saidah!" Kami berlima berteriak serempak.
"Gue nggak setuju. Tempat lain aja napa, creepy banget itu
tempat." Arma menolak usulan Doni.
"Kita juga nggak setuju." Vita dan Gilang mengucapkannya
dengan kompak.
"Kalian napa sih, heran gue biasanya kemana aja nurut. Kan cuma
masuk, liat-liat trus ambil foto udah." Doni masih bersikeras dengan
usulannya.
"Kemana aja nurut kalo kita ber 20. Ini kita enam orang doang.
Kenapa-napa bisa berabe nggak ada yang nolong." Aku berusaha membuat Doni
agar tak melanjutkan ide gilanya itu.
"Gini aja besok yang libur kerja siapa? Cari informasi
sebanyak-banyaknya gimana cara masuk sana? Dan kalo perlu nyogok security
berapa duit biar ngijinin kita masuk?" Doni membuat keputusan dengan
sendirinya. Dan kamipun mengiyakannya saja karena tak ingin berdebat lebih
lanjut.
Esok harinya, sekitar pukul empat sore, aku dan Arma mendapatkan tugas
mencari tahu tentang Menara Saidah. Awalnya security tersebut tak mau memberi
informasi. Namun setelah dibujuk dan diberi sejumlah uang akhirnya mau sedikit
memberi informasi kepada kami. Ya iyalah, waktu itu securitynya masih
saudaranya Arma. Hehehe.
Menara Saidah adalah nama sebuah gedung yang berfungsi sebagai pusat
perkantoran dan terletak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Indonesia lebih
tepatnya dekat cawang. Sebelumnya, nama gedung ini adalah Gedung Grancindo dan
didirikan lama sebelum kemudian direnovasi besar besaran menjadi Menara Saidah.
Nama yang diberikan pada gedung ini diambil dari nama pemiliknya,
Saidah Abu Bakar Ibrahim. Gedung ini diresmikan pada tahun 2001. Kekhasan
gedung ini adalah desainnya dengan patung-patung bernuansa Romawi diimpor dari
Italia. Desain interiornya menggunakan "sentuhan Las Vegas" dengan
langit-langit bagian lobi yang nuansanya bisa diganti. Gedung ini memiliki 28
lantai, dibangun pada tahun 1995 hingga 1998 oleh PT. Hutama Karya dan
merupakan gedung tinggi pertama yang dibangun oleh kontraktor tersebut.
Renovasi besar-besaran ini dilakukan termasuk menambah ketinggian gedung awal
yang 15 lantai menjadi 28 lantai. Pada tahun 2007 gedung ini resmi ditutup
untuk umum karena pondasi gedung tidak tegak berdiri dan miring beberapa
derajat serta dianggap membahayakan keselamatan penghuni gedung. Konstruksinya
dianggap bermasalah sejak awal, namun dari pihak pemilik maupun Suku Dinas
Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) tidak ada yang bersedia memberikan
penjelasan.
Rahmat, salah satu petugas keamanan yang pernah bekerja selama delapan
tahun di gedung tersebut menuturkan pada tahun 2007 pemutusan hubungan kerja
dilakukan secara sepihak, dan hingga hari ini ratusan karyawan belum memperoleh
pesangon.
Itulah sepenggal cerita asal usul Menara Saidah. Setelah mendengar
penjelasannya, security tersebut mengajak kami masuk ke dalam untuk melihat
lihat.
Aroma mistis langsung menyeruak saat kami masuk melalui pintu depan
bagian lobi. Patung besar bergaya eropa langsung menyambut kami. Arma sempat
berteriak saat melihat patung itu. Matanya seolah-olah mengikuti kemana pun
kami melangkah. Aku segera membekap mulutnya dengan tanganku. Gawat kalau
membuat keributan. Sangat bahaya.
"Anjir, baru juga jam setengah lima sore. Udah creepy gini.
Serius, Rin mau lanjut?" Arma berbisik di telingaku. Aku mengganguk karena
sudah terlanjur masuk.
Jadilah kami melakukan tour layaknya room tour. Namun, ditemani oleh
dua orang security. Menuju ke lantai dua kami disambut suara berdecit dan juga
bau busuk yang menyengat. Ada puluhan ekor tikus dan juga bangkai kelelawar
tergeletak di lantai yang sudah sudah terlihat sangat kotor itu.
"Hati-hati, disini banyak kelelawar," ucap salah seorang
security itu.
Kami pun menatap ke langit-langit lantai dua. Dan benar saja ada
banyak sekali kelelawar tergantung di sana. Lalu, kami melanjutkan menuju
lantai tiga. Di lantai inilah bulu kuduk kami seolah sedang berbaris rapi. Rasa
dingin disertai panas tubuh yang tidak wajar. Beberapa bayangan hitam tampak
berseliweran di antara kami berdua. Anehnya, security itu seperti tidak merasa
apa-apa malah sesekali menyorotkan senternya kepada kami. Mereka berdua
tergelak melihat wajah kami yang cukup pucat pasi akibat ketakutan. Meskipun
kami berdua--aku dan Arma-- memang terbiasa melihat mahluk tak kasat mata tapi
sejujurnya rasa takut pasti ada apalagi gedung ini sangat gelap. Ya, kami fobia
gelap.
"Udah ya, Mbak, Mas saya cuma diijinkan sampai lantai tiga.
Sekarang kita turun lagi." Security itu meminta kami turun. Agak kecewa
karena kami masih penasaran dengan lantai selanjutnya.
Malam hari kami membicarakan apa yang aku alami kepada Doni. Berharap
dia mau mengerti dan mengganti usulannya itu. Namun, kami salah bukannya takut
dia malah makin penasaran dengan gedung itu. Emang dasar Doni udah gila
pikirannya.
Mungkin kalimat itu yang ada dalam pikiran kami berlima. Lebih
parahnya, lagi dia mengajak untuk masuk ke sana dengan cara 'ilegal'. Yaitu
masuk diam-diam tanpa di ketahui security.
Perlu di ketahui sekalipun Menara Saidah sudah kosong sejak 2007 namun
masih di jaga ketat oleh security. Di bagian depan gedung ada tujuh orang.
Sementara di basement ada tiga orang. Ini cukup sulit sebenarnya. Namun, rasa
penasaran kami semakin menjadi hingga akhirnya memutuskan berangkat ke sana
minggu depan.
****
Hari yang dijanjikan tiba, kami berenam berembuk bagaimana cara masuk
ke sana tanpa ketahuan security?
Pukul dua belas malam, kami mulai bergerak dengan mengendarai mobil
milik Doni. Lalu berhenti di sekitar stasiun cawang. Doni memarkirkan mobilnya
lalu mengajak kami berenam berjalan kaki melalu samping Menara Saidah. Karena
letaknya lebih tinggi kami sedikit memanjat pagar, lalu turun tepat di belakang
gedung. Tak di sangka ada sebuah sumur tua yang tak jauh dari pintu masuk
belakang gedung.
Saat kami sedang menyelinap dan berusaha membuka pintu belakang
gedung. Ada dua orang security sempat mengarahkan senternya ke pada kami.
Beruntung kami berhasil lari. Kami bersembunyi di antara rumput-rumput tebal,
pohon dan ranting-ranting yang rimbun. Berasa seperti di 'game call of dutty'.
Hahaha.
Lalu akhirnya kami bisa lolos setelah ngestuck selama setengah jam di
sana. Kami langsung masuk ke basement gedung tersebut untuk mencari pintu
tangga darurat. Setibanya di sana kami terkejut. Ruangan basement sangat amat
bau bangkai dan sampah-sampah berserakan. Terdapat lubang besar, jika seseorang
tercebur ke dalamnya sudah dipastikan akan berenang di genangan air bercampur
sampah yang sangat bau.
Udara panas sangat terasa. Baru beberapa langkah menuju tangga
darurat, terdengar suara cekikikan dan tangisan bayi di ujung basement. Kami
pun lari tunggang langgang menaiki tangga darurat. Pegangan tangga yang
harusnya berwarna merah sudah ditutupi debu hingga menjadi berwarna coklat.
Saking panasnya udara di dalam, sampai teman-temanku yang laki-laki membuka
kaus yang mereka pakai. Hahaha. Kecuali kami berdua--aku dan Vita--.
Satu-satunya akses untuk naik ke atas gedung ini hanya satu, yaitu
melewati tangga darurat ini. Bagi yang melewati tangga darurat ini, mereka akan
stuck di tangga lantai satu untuk naik ke lantai dua. karena disana ditutup
oleh besi, kayu dan lemari. Namun, saat itu kami sedang beruntung sehingga bisa
menyelinap lewat sisi lemari, 'kebetulan saat itu kami kurus-kurus'. Hehehe.
Naik ke lantai dua, kami keluar pintu darurat. Namun, lagi-lagi kami
disambut oleh sorot senter para security. Astaga padahal sudah pukul satu
malam. Kami pun bergegas masuk ke pintu menuju tangga darurat untuk menuju
lantai tiga.
Perjalanan selama di tangga darurat inilah yang menyeramkan.
"Lang, tangan lo diem napa? Nggak usah pegang-pegang pundak
gue!" Doni yang berjalan paling depan memarahi Gilang.
"Eh, kunyuk, sapa juga yang megang lu. Gue dari tadi megang
senter!" Teriak Gilang.
"Ini juga, Napa lu Rei, towel-towel pinggang gue. Dasar
mesum," sungut Vita menjewer telinga Rei.
"Eh, sekate-kate lu ya. Tangan gue megang kamera segede Hulk.
Ngapain juga nowel elu." Rei terlihat manyun sambil menggerutu.
Arma dan aku saling pandang melihat keributan mereka. Kalau semua
tidak merasa menganggu satu sama lain, lalu siapa yang melakukannya? Entahlah.
Tiba-tiba terdengar langkah sepatu di tangga bagian bawah. Hmm ...
sepertinya ada sesorang hendak naik. Gawat bisa ketahuan kalau begini, aku
meminta Doni yang dibagian paling depan untuk berjalan menaiki tangga lebih
cepat. Kami berlari sambil menaiki tangga dengan napas kembang kempis. Suara
langkah sepatu menghilang. Namun, berganti menjadi suara nyanyian wanita
seperti bersenandung. Mengalun perlahan dan sukses membuat level rasa takut
kami berada diatas rata-rata. Peluh membanjiri pakaian yang kami kenakan.
Kepalang tanggung, kami sudah sampai tangga lantai empat menuju lantai lima.
Tiap sampai di lantai berikutnya kami beristirahat sekitar lima menit. Dan
melanjutkan menaiki tangga lagi.
Anehnya, setiap kami menaiki anak tangga pasti terdengar suara langkah
sepatu, seperti sepatu pantofel berhak rendah yang biasa dipakai para pekerja
kantoran. Padahal jelas-jelas kami berenam memakai sepatu kets jadi tak mungkin
menimbulkan suara. Dan suara itu menghilang saat kami berhenti.
Ada sekitar 26 lantai kalau aku tidak salah. Jadi kami harus menaiki
tangga hingga 26 kali dengan keadaan ngos-ngosan, ketakutan dan amat sangat
pengap, panas, dan bau bangkai.
Ada kejadian horor dan cukup menakutkan bagi kami. Tepatnya di lantai
enam, tujuh dan delapan. Entah kenapa kami penasaran dengan ketiga ruangan
tersebut. Kami keluar tangga darurat di lantai enam dan sampai di ruangan yang
sangat luas akan tetapi keadaan ruangannya sangat memprihatinkan. Seluruh
ubinnya sudah di cabut sepertinya di curi oleh warga sekitar. Banyak kaca yang
sudah pecah, plafon pun sudah banyak yang jebol.
Gilang dan Doni sedang asyik mengambil gambar dengan kamera mereka.
Sementara aku mulai merasakan hawa tidak nyaman. Seperti ada sosok yang
memperhatikan kami dari jauh.
Terdengar pekikkan suara Arma dan Vita. Aku baru sadar jika mereka
berdua tak terlihat di sampingku. Padahal sudah diperingatkan jangan terpisah
dari rombongan.
"Kenapa, kalian? Liat apaan?!" Aku menanyai mereka yang
terdengar ketakutan.
"A ... a ... da, kaki melayang di sana." Arma dan Vita
menunjuk ke arah jendela.
Segera ku sorot jendela itu menggunakan senter. Bukan kaki yang
terlihat sorot senterku melainkan mahluk hitam bertaring yang merangkak di
jendela.
"Huwaaaaa ... !" Kami bertiga berlari menuju pintu masuk
tangga darurat.
Kulihat Doni, Gilang dan Rei berlari mendekat. Mereka tampak panik
mendengar teriakan kami.
"Cuy, kalian kenapa? Liat setan ya?" Doni dengan santai
mengajukan pertanyaan sambil senyum mengejek.
"Bukan setan lagi kalo yang tadi. Itu mah bapaknya setan. Serem
gila! mukanya blasteran leak sama kunti." Gilang menjawab dengan suara
bergetar.
"Tadi, ada yang liat cewek baju merah nggak sih?" tanya Rei.
"Nggak, ada," balas kami serempak.
"Huft ... untung nggak ada yang liat. Gue tadi pas mau foto dekat
meja kantor tadi, ada cewek berdiri pake gaun merah. Pas gue senter mukanya
astaga itu muka apa gilasan cucian. Rata cuy mana lehernya hampir putus
lagi." Rei bercerita dengan mendetail.
Kami pun berteriak kembali mendengar cerita Rei. Lantai demi lantai
kami naiki sambil sesekali menoleh. Aku sesekali melihat sosok bergaun merah
itu. Yang sepertinya mengikuti kami sejak dari lantai enam.
Beberapa kali kami masih mendengar teriakan dan juga tangisan saling
bersahutan. Suaranya memantul di dinding tangga darurat.
Di lantai delapan kami pun membuka pintu darurat dan kembali menemukan
ruangan yang luas. Namun ternyata di sanalah pusat dari segala mahluk tak kasat
mata tinggal.
Pintu di buka kami melihat puluhan bocah hitam berkepala plontos
berlarian. Awalnya kami anggap biasa saja. Namun, kami terkejut saat melihat
salah satu dari mereka bertaring dan berlumuran darah. Berjalan menghampiri
kami. Secepatnya kami tutup pintu dan kembali menaiki anak tangga.
Kami terus naik hingga waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Tak
terasa kami tiba di lantai ke 27 itu artinya kami akan sampai di Rooftop.
Sesampai di atas kami pun amat sangat senang, karena bisa menghirup
udara yang segar dan amat dingin. Tubuh yang tadinya basah kuyup karena
keringat jadi seger kembali. Pemandangan di atas pun begitu indah.
Setelah istirahat kami langsung keatas menara yang terbuat dari kaca.
Cukup lama kami di atas mengumpulkan energi untuk turun kembali dan menunggu
pagi menjelang. Alasannya adalah kami masih takut bertemu sosok wanita bergaun
merah. Yang bahkan saat kami sudah di atas menara, sosok itu masih saja
mengintip di balik pintu masuk tangga darurat.
Sekian, sedikit cerita pengalaman kami saat explore ke menara saidah.
Kalau masih kurang seram. Jajalen dewe. Hehehe.
Dari saya anggota ghost hunter yang lagi hiatus.
No comments:
Post a Comment