Wednesday, November 6, 2019

Berdiri Sepatu Atheis – By Abdussyukur Muharam (Komunitas Bisa Menulis)


DISCLAIMER: Tulisan berikut mengandung hal-hal sensitif. Jika berkenan membaca, mohon lakukan dengan bijaksana


#Keluar_dari_Barisan
Tempo hari saya melihat video podcast Deddy Corbuzier featuring seseorang yang mengaku baru melepaskan keislamannya dan belum memutuskan akan memeluk agama apa. Untuk menegaskan langkahnya itu, ia secara resmi mencopot nama Muhammad yang semula tersemat padanya. Alasannya, nama tersebut pemberian Nyokap, bukan keinginannya sendiri. Orang ini, yang ternyata seorang artis rap, dengan ucapan ditingkahi bahasa Inggris yang sebagian besar kosa katanya berisi sumpah-serapah, menceritakan latar belakang keluarganya. Ayahnya meninggalkan keluarga ketika ia masih bayi, ibunya mengirimnya ke sekolah Kristen, dan ia harus menjalani masa kecil dan remaja yang berat sampai akhirnya bisa mencapai apa yang ia klaim sebagai “sukses.”

Saya terusik bukan karena sama sekali tidak pernah mendengar nama artis tersebut sebelumnya, namun membayangkan bagaimana perjalanan hidup orang ini menggiringnya pada jalur murtad. Mendengar begitu derasnya ungkapan-ungkapan kebencian terhadap ayahnya keluar dari lisannya, saya berani menduga pengalaman getir yang dialaminya di rumah berkontribusi besar terhadap pilihannya melepas keyakinan yang ‘diwariskan’ orangtuanya itu.

"Does God exist?” tanyanya sambil tertawa, yang juga disambut dengan tawa pahit oleh Tuan Corbuzier.

Saya mengelus dada. Bukan cuma karena mendengar pertanyaan tersebut dilontarkan di ranah publik oleh seseorang dengan banyak follower, tapi karena membayangkan banyaknya orang di luar sana yang punya pemikiran serupa. Di linimasa akun Facebook, hampir setiap hari saya membaca post atau komentar dari para “pemikir bebas” itu. Pernah ada satu akun di friendlist yang dalam obrolan di Messenger mengatakan bahwa ia mencantumkan agama tertentu di KTP hanya karena tidak bisa membiarkannya kosong. Pada kenyataannya ia tidak menganut agama apa pun. Bisa diyakini bahwa ia bukan satu-satunya orang yang melakukan itu.

#Atheis_dalam_Angka
Berapa banyak sebenarnya para atheis dan agnostik ini di Indonesia? Pasti akan sangat sulit menemukan jawaban yang akurat. Sensus kependudukan tidak dapat mendeteksi mereka karena di Indonesia, secara de jure, konstitusi tidak memberi ruang bagi mereka. Tapi de facto, keberadaan mereka cukup terasa. Terutama jika kita mau menengok grup-grup tempat mereka bertukar pandangan, saling menguatkan “ketidakyakinan terhadap keyakinan," dan mencemooh semua hal yang menyangkut agama—terutama Islam. Di dunia maya mereka bebas berekspresi, meski mungkin dalam keseharian di dunia nyata lebih banyak mengenakan topeng. Jadi, tanpa kita ketahui, mungkin saja salah seorang dari mereka adalah kerabat kita, rekan kerja, teman kuliah, atau tetangga. We'll never know.

Di negara-negara yang tidak menganggap atheisme sebagai pelanggaran terhadap konstitusi, mungkin lebih mudah mengetahui keberadaan mereka. Menurut sosiolog Phil Zuckerman, secara kasar jumlah orang yang “tidak punya keyakinan” di seluruh dunia adalah antara 500 sampai 700 juta, dengan Cina dan Rusia sebagai kontributor terbanyak. Sementara studi yang dilakukan Pew Research Center (sebuah lembaga riset yang cukup ternama) menyebut 16% dari populasi dunia adalah kalangan yang “tidak terafiliasi ke agama apa pun” (unaffiliated). Di Amerika Serikat populasi unaffiliated ini terus meningkat. Tahun 2007, kalangan atheis di AS hanya 1,6%. Tahun 2014 jumlahnya jadi dua kali lipat, 3,1%. Sementara ‘sepupu’ mereka, kalangan agnostik, meningkat dari 2,4% menjadi 4%. Itu belum termasuk kalangan yang menganggap “agama tidak penting” (nothing in particular) yang bertambah dari 12,1% menjadi 15,8%. Kalau mereka semua dikumpulkan, jumlahnya pada tahun 2014 mencakup 22,8% dari penduduk AS.

Bagaimana di wilayah-wilayah lain? Angka statistik memang kadang bikin puyeng, karena beda lembaga survei, beda pula hasilnya. Dan bisa dimaklumi, angka dari lembaga yang sama pun akan berbeda jika survei dilakukan pada waktu yang berbeda. Tambah jangar karena perbedaan definisi dan kategori juga membuat angka berbeda secara menyolok. Namun sebagai gambaran, kita ambil salah satu hasil survei yang menunjukkan bahwa populasi atheis itu bukan cuma ada di negara-negara Barat. Mungkin tidak terlalu mengejutkan kalau survei itu menyebutkan bahwa jumlah atheis di Inggris 25%, Prancis 40%, Belanda 30%, Jerman 27%, dan Jepang serta Cina masing-masing 32% dan 61%. Tapi jangan disangka di negara-negara Timur Tengah mereka tidak eksis. Walaupun prosentasenya kecil, mereka ada juga di kawasan tersebut. Populasinya, menurut survei tersebut, di negara Mesir 3,57%, Maroko 1%, Iran 5%, Arab Saudi 5% dan Turki 2,9%.

Bagaimana dengan di Indonesia? Hasil studi oleh WIN-Gallup International tahun 2014 menunjukkan jumlahnya ‘hanya’ 0,19%. Bandingkan dengan Malaysia yang mencapai 3%. Angka 0,19% mungkin kecil, tapi kalau kita kalikan dengan jumlah penduduk, itu artinya sekitar setengah juta jiwa! Benarkah sebanyak itu jumlah atheis di Indonesia? والله أعلمُ

#Memahami_Joker_Berpikir
Sejak lama saya penasaran bagaimana seseorang bisa menjadi atheis. Saya yakin menjadi atheis adalah keputusan yang teramat besar karena menyangkut banyak (bahkan mungkin semua) aspek kehidupan seseorang. Pastinya bukan ide yang melintas begitu saja ketika bangun pagi atau ketika sedang menunggu Abang Ojol datang membawa pesanan ayam geprek. Bagaimana seseorang bisa sampai pada titik “tidak percaya” pastinya melewati perjalanan panjang. Bagi banyak orang yang dibesarkan dalam keluarga beragama, menjadi atheis itu impossible. Tidak pernah terbersit. Namun nyatanya bukan cuma ada, melainkan banyak. Tahapan studi apa yang sebenarnya mereka jalani, sejauh apa riset mereka, dan seberapa dalam mereka berkontemplasi? Ataukah yang lebih berperan justru bukan keliaran berpikir, melainkan pengalaman emosional buruk yang membekas teramat dalam?

Lebih jauhnya saya ingin memahami bagaimana otak atheis bekerja. Harap dimaklumi, mencoba memahami, bukan berarti membenarkan. Ibarat melihat film “Joker,” kita menjadi tahu mengapa Arthur Fleck menjadi jahat, bukan berarti kita membenarkan kejahatannya. Mengapa hal ini harus dipahami? Karena yang saya perhatikan, khususnya di Indonesia, para atheis itu tidak murni sebagai "orang yang tidak percaya terhadap kepercayaan pada Tuhan" tetapi banyak yang punya aktivitas tambahan sebagai pembenci Islam. Mereka tidak terlalu galak terhadap ajaran dan pemeluk agama lain, seolah misi mereka menjadi atheis itu semata-mata menentang dan membenci Islam. Berbeda dengan para atheis di Barat sana, pandangan mereka lebih 'netral', bahwa semua agama cuma kekonyolan belaka.

Road to atheism itu sangat personal dan individual, berdasarkan kondisi yang sangat khusus, demikian kata seseorang. Mungkin yang dimaksud "sangat khusus" di sini adalah pengalaman pahit dalam hidup seseorang. Dan bagi sebagian mereka ‘pilihan’ menjadi atheis bukan hasil proses memilih. Mereka tidak percaya Tuhan, ya sudah. Bukan sengaja memilih jadi atheis, melainkan hanya konsekuensi dari ketidakpercayaan.

#Dinyatakan_tanpa_Bukti_Ditolak_tanpa_Bukti
Akar dari ketidakpercayaan mereka, sebagaimana mungkin mudah diduga, adalah pemujaan pada akal dan logika. Segala sesuatu, bagi mereka, harus bisa masuk akal dan bisa dijelaskan dengan logika. Akan sia-sia meyakinkan mereka bahwa kemampuan akal dan logika manusia itu terbatas. Ada pernyataan yang kerap dikutip dari Christopher Hitchen, seorang "anti-theist" Inggris-Amerika yang menulis banyak buku. Pernyataan tersebut dikenal sebagai Hitchen’s Razor (philosophical razor adalah istilah untuk sebuah konsep yang bertujuan menyingkirkan penjelasan atau argumen yang tidak bisa diterima.) Begini bunyinya: “Hal yang bisa dinyatakan tanpa bukti, juga bisa ditolak tanpa bukti.” Pernyataan ini sebenarnya berasal dari kaidah hukum Latin: “Quod gratis asseritur, gratis negatur.”

Dalam pemahaman para atheis, karena konsep ketuhanan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, maka berdasarkan dalil di atas, bisa ditolak. Hal ini terkait dengan konsep dasar realitas. Kalangan atheis berpandangan bahwa dalam agama konsep realitas sudah diketahui dan itu diperoleh dari kitab suci. Tapi kitab suci tidak bisa diuji. Sedangkan menurut sains konsep dasar realitas itu belum diketahui. Perhatian sains adalah pada menemukan hakikat realitas tanpa berasumsi. Konsekuensinya, teori-teori ilmiah apa pun baru bisa diterima setelah lolos uji. Mereka berpandangan agama tidak tertarik untuk menguak kebenaran karena kebenaran tersebut sudah diketahui.

Analogi yang dikemukakan biasanya gambaran begini:

Seorang yang tidak Anda kenal mengetuk pintu rumah dan mengatakan bahwa anak Anda meninggal karena tertabrak di jalanan. Apakah Anda akan percaya? Kemudian ada seorang polisi berseragam datang dengan mobil dinas, mengabarkan hal yang sama. Percakayah Anda kali ini?

Banyak orang akan percaya kepada kabar dari polisi karena mereka punya otoritas untuk menyampaikan kabar demikian. (Sampai di sini para atheis menyamakan penganut beragama dengan mereka yang percaya pada polisi karena kabar dibawa oleh orang yang "punya otoritas.") Tapi menurut kalangan atheis, Anda tidak bisa mempercayai polisi sebelum melihat dengan mata kepala sendiri tubuh anak yang meninggal tertabrak.

Begitulah mereka menyikapi konsep ketuhanan. Karena mereka tidak bisa melihat dengan mata kepala sendiri, artinya tidak bisa dibuktikan. Dan ujung-ujungnya konsep tertolak. Sebagai turunannya, semua hal yang berkaitan dengan dan bersumber dari agama menjadi tidak ilmiah. Jika ada kajian atau buku yang mengupas hal-hal ilmiah, katakanlah misalnya tentang big bang theory (teori dentuman besar) yang disebut dalam Al Quran S 21: 30 dan Al Quran S 51: 47 (tentang the expanding universe atau jagat raya yang mengembang, seperti juga dirumuskan dalam Hubble's Law), bagi mereka adalah upaya membongkar misteri sains dengan dongeng. Kalaupun ada bukti ilmiah yang mendukung kebenaran Al Quran, itu hanyalah hasil dari cocoklogi. Ilmuwan kalau sudah bersinggungan dengan agama menjadi idiot. Karena ilmuwan tersebut hanya menyampaikan dongeng yang diilmiahkan, begitu menurut mereka.

#Moral_dengan_dan_tanpa_Agama
Karena konsep awal ketuhanan tidak mereka terima, maka demikian juga semua yang berhubungan dengannya. Mereka tidak dapat memahami bahwa ummat beragama yang beramal saleh di dunia akan mendapat ganjaran surga di akhirat. Dalam hal moral, mereka menilai diri sendiri lebih mulia karena mereka berbuat baik bukan lantaran mengharap pahala surga. Amal ibadah itu nol besar bagi mereka, yang penting moralitas yang baik. Dan untuk bermoral tidak perlu ber-Tuhan. Senjata yang dipakai untuk mengolok-olok ummat Islam adalah bahwa Muslim mau beriman dan beramal saleh karena diiming-imingi sex party dengan 72 bidadari. Seorang atheis pendukung berat Israel yang juga peraih Nobel untuk Fisika tahun 1979, Steven Weinberg mengatakan, “Dengan atau tanpa agama, orang baik bisa berbuat baik dan orang jahat bisa berbuat jahat; tapi bagi orang baik berlaku jahat—diperlukan agama.”

Mereka tidak habis pikir, bagaimana Muslim menganggap bahwa Islam menawarkan solusi bagi semua permasalahan hidup. Islam memberikan solusi, misalnya untuk yang berwajah suram maka tahajudlah, jika tidak bahagia salatlah awal waktu, jika emosi meningkat berwudlulah dan perbanyak istigfar, jika gelisah perbanyak doa dan ibadah, jika hati sempit bacalah Al Quran, jika hidup banyak beban perbanyaklah sedekah, jika mendapat tekanan banyak-banyak berdzikir, dan jika sakit berpuasalah. Hal-hal demikian tidak dapat diterima oleh akal mereka.

Mereka gusar dengan ghirah ummat Islam yang menginginkan sendi-sendi kehidupan pribadinya berdasarkan ajaran Islam. Bagi mereka itu semacam pemerkosaan terhadap nalar. Bagaimana mungkin kehidupan diatur oleh sesuatu yang absurd? Sedangkan untuk kondisi yang memerlukan deus ex machina saja Tuhan tak berdaya. Mengapa Tuhan tidak hadir di Aleppo, adalah pertanyaan klasik yang sering mereka lontarkan. Mereka terpingkal-pingkal mendengar ummat Islam menghubungkan datangnya musibah dengan banyaknya dosa. Dan karena (juga) tidak percaya dengan adanya syetan, mereka menganggap ajaran yang menyebut bahwa syetan musuh nyata manusia dan akan selalu berusaha menjerumuskan manusia, sebagai ajaran menyesatkan. Sebagai upaya manusia mencari kambing hitam. Berdosa karena nafsu kok menyalahkan syetan, kata mereka.

Apalagi kalau ghirah itu juga diterapkan untuk kehidupan sosial bermasyarakat. Karena hal tersebut akan mempengaruhi cara orang berinteraksi satu sama lain. Bayangkan bagaimana memuncaknya kegusaran itu manakala banyak ummat yang menghendaki bukan hanya sendi-sendi kehidupan bermasyarakat saja yang berlandaskan agama, tapi dalam skala yang lebih luas, dalam bernegara. Semacam ada ancaman bahwa keberlangsungan “spesies” mereka tidak akan bertahan dalam upaya survival of the fittest.

#Gusar_akan_Ghirah
Jadi bisa dimaklumi bagaimana mereka risau betapa banyaknya kehidupan ummat Islam mengacu kepada aturan yang ditetapkan Tuhan. Misalnya pemisahan wanita dan pria dalam suatu majelis. Acara pernikahan yang memisahkan antara tamu wanita dan pria saja bisa membuat mereka tidak bisa tidur semalaman karena gundahnya. Mereka membandingkan foto anak SMA masa kini dengan foto serupa puluhan tahun lalu. Dulu, foto siswa-siswi itu begitu “alami” tanpa ada diferensiasi. Sekarang para siswinya sebagian berhijab. Memperlihatkan, apalagi menonjolkan identitas keagamaan itu dinilai suatu yang “tidak ramah" alias mengancam. Untuk alasan yang sama mereka tidak menyukai ummat yang bercelana cingkrang, kecuali kalau dia Keanu Reeves atau artis Korea. Ketika mengetahui bahwa beberapa lembaga pendidikan memberi fasilitas khusus dalam proses penerimaan bagi hafidz Quran, mereka menilai dunia pendidikan sudah “dikotori” paham garis keras. Suara-suara khawatir juga muncul ketika pemuda Enzo tetap diterima di pendidikan militer, setelah banyak berita simpang-siur yang menghubungkan dirinya dengan Islam garis keras. Apa jadinya kalau suatu saat dia menjadi panglima, tanya mereka.

Dalam tataran hidup bernegara, aturan yang mengakomodir ummat Islam merupakan pengekangan bagi kebebasan mereka. Mereka memandang memilih pemimpin berdasarkan kesamaan keyakinan atau karena harapan terakomodirnya tuntutan agama merupakan salah sebuah kebodohan yang diakibatkan oleh doktrin agama. Tidak peduli seberapa pintar dan bagus kinerja pemimpin yang membawa citra islami, bagi mereka semua nol besar. Karena pemimpin Muslim tidak ada yang benar. Kalaupun ada pemimpin beragam Islam, dia tidak boleh menonjolkan keislamannya, apalagi membuat kebijakan didasari kepentingan Islam. Dengan mengutip data serampangan, mereka selalu mengatakan bahwa di negara-negara mayoritas Islam kondisi umumnya adalah tingkat kemiskinan dan kejahatan tinggi, tingkat pendidikan rendah, dan Human Development Index jeblok. Miriplah dengan yang disampaikan seorang dosen kontroversial di Jakarta dalam sebuah video baru-baru ini.

Agama tidak usah ikut mencampuri urusan negara, selalu itu yang digembar-gemborkan. Tetapi ketika ditanyakan mengapa duit zakat dan haji boleh dipakai pemerintah untuk pembangunan infrastruktur, mereka menjawab: agama memang tidak boleh mencampuri urusan negara, tapi negara boleh mencampuri agama.

#Battle_of_Thoughts
Karena mereka tidak ingin “pengaruh Islam” itu semakin mengganggu “ketenteraman” hidup mereka, maka mereka akan melakukan apa pun untuk menghentikannya. “If you expect me to keep my atheism quiet, then I expect you to keep your religion quiet. You love the freedom of religion and I love the freedom from religion.” Jika ada pemimpin yang memberi peluang pada Islam, mereka akan serang dan hancurkan nama dan karirnya dengan apa yang mereka bisa. Kalau ada berita yang menyudutkan ummat Islam, mereka akan dengan senang hati menyebarkannya, tidak peduli berita tersebut benar atau tidak. Prinsip kritis terhadap sumber berita menjadi tidak berlaku sepanjang isinya menyudutkan Islam. Dan mereka dengan senang hati menjadi cheerleaders jika pertentangan antar-ummat Muslim muncul di panggung massa. Sedangkan berita adanya warga Kurdi Irak yang memeluk kembali Zoroaster (Majusi) saja mereka sambut dengan suka cita. Tapi mereka diam seribu bahasa ketika beredar berita tentang pasien Muslim di sebuah yayasan di Sumut yang dipaksa pindah keyakinan. Atau berita seseorang melempari masjid dengan kotoran. Dan masih banyak berita sejenisnya.

Makanan empuk mereka adalah berita tentang kalangan beragama apalagi tokoh agama berbuat skandal. Jagankan berbuat salah, berbuat benar saja dicari-cari kesalahannya. Mereka seperti sekumpulan piranha yang berenang ke sana ke mari di bawah permukaan Sungai Amazon. Mereka serentak berpesta ria jika ada drama semisal pelemparan panci, penusukan dengan invisible knife dan sejenisnya yang dinisbatkan pada ummat Islam. Itu adalah momen yang ditunggu karena merupakan kesempatan untuk menyudutkan Islam. Berita-berita negatif terkait Islam (dari mana pun sumbernya dan betapa pun aneh skenarionya) ibarat keratan daging yang dilempar ke Sungai Amazon. Mereka akan berebutan melahapnya. Bedanya kalau piranha melahap sampai habis, mereka menggorengnya sampai titik air liur penghabisan.

Hal-hal yang membuat mereka senang adalah ketika ada sebagian ummat Islam membubarkan pengajian sesama Muslim. Atau penghadangan terhadap ustadz tertentu, atau bahkan pemenjaraan ustadz. Bagi mereka, apa yang dilakukan seorang pejabat belakangan ini dengan mempermasalahkan celana cingkrang, niqab, dan isu Islam radikal, adalah upaya pemberantasan kegoblokan. Apa yang disampaikan Din Syamsudin bahwa “Wacana anti radikalisme menyakiti ummat Islam” bagi mereka adalah pembenaran bahwa logikanya Islam adalah radikalisme. Intinya mereka tidak ingin Islam semakin berkembang. Kalaupun Islam mayoritas, tidak perlulah menunjukkan identitas keislaman. Mereka setuju dengan adanya larangan celana cingkrang atau niqab, atau apa pun yang bisa mengerem laju perkembangan Islam, karena dengan begitu, bagi mereka, Indonesia kembali menjadi Indonesia.

Entah bagaimana impian mereka tentang Indonesia.

No comments:

Post a Comment