DISCLAIMER: Tulisan berikut mengandung hal-hal sensitif. Jika berkenan
membaca, mohon lakukan dengan bijaksana
#Keluar_dari_Barisan
Tempo hari saya melihat video podcast Deddy Corbuzier featuring
seseorang yang mengaku baru melepaskan keislamannya dan belum memutuskan akan
memeluk agama apa. Untuk menegaskan langkahnya itu, ia secara resmi mencopot
nama Muhammad yang semula tersemat padanya. Alasannya, nama tersebut pemberian
Nyokap, bukan keinginannya sendiri. Orang ini, yang ternyata seorang artis rap,
dengan ucapan ditingkahi bahasa Inggris yang sebagian besar kosa katanya berisi
sumpah-serapah, menceritakan latar belakang keluarganya. Ayahnya meninggalkan
keluarga ketika ia masih bayi, ibunya mengirimnya ke sekolah Kristen, dan ia
harus menjalani masa kecil dan remaja yang berat sampai akhirnya bisa mencapai
apa yang ia klaim sebagai “sukses.”
Saya terusik bukan karena sama sekali tidak pernah mendengar nama
artis tersebut sebelumnya, namun membayangkan bagaimana perjalanan hidup orang
ini menggiringnya pada jalur murtad. Mendengar begitu derasnya
ungkapan-ungkapan kebencian terhadap ayahnya keluar dari lisannya, saya berani
menduga pengalaman getir yang dialaminya di rumah berkontribusi besar terhadap
pilihannya melepas keyakinan yang ‘diwariskan’ orangtuanya itu.
"Does God exist?” tanyanya sambil tertawa, yang juga disambut
dengan tawa pahit oleh Tuan Corbuzier.
Saya mengelus dada. Bukan cuma karena mendengar pertanyaan tersebut
dilontarkan di ranah publik oleh seseorang dengan banyak follower, tapi karena
membayangkan banyaknya orang di luar sana yang punya pemikiran serupa. Di
linimasa akun Facebook, hampir setiap hari saya membaca post atau komentar dari
para “pemikir bebas” itu. Pernah ada satu akun di friendlist yang dalam obrolan
di Messenger mengatakan bahwa ia mencantumkan agama tertentu di KTP hanya
karena tidak bisa membiarkannya kosong. Pada kenyataannya ia tidak menganut
agama apa pun. Bisa diyakini bahwa ia bukan satu-satunya orang yang melakukan
itu.
#Atheis_dalam_Angka
Berapa banyak sebenarnya para atheis dan agnostik ini di Indonesia?
Pasti akan sangat sulit menemukan jawaban yang akurat. Sensus kependudukan
tidak dapat mendeteksi mereka karena di Indonesia, secara de jure, konstitusi
tidak memberi ruang bagi mereka. Tapi de facto, keberadaan mereka cukup terasa.
Terutama jika kita mau menengok grup-grup tempat mereka bertukar pandangan,
saling menguatkan “ketidakyakinan terhadap keyakinan," dan mencemooh semua
hal yang menyangkut agama—terutama Islam. Di dunia maya mereka bebas
berekspresi, meski mungkin dalam keseharian di dunia nyata lebih banyak
mengenakan topeng. Jadi, tanpa kita ketahui, mungkin saja salah seorang dari
mereka adalah kerabat kita, rekan kerja, teman kuliah, atau tetangga. We'll
never know.
Di negara-negara yang tidak menganggap atheisme sebagai pelanggaran
terhadap konstitusi, mungkin lebih mudah mengetahui keberadaan mereka. Menurut
sosiolog Phil Zuckerman, secara kasar jumlah orang yang “tidak punya keyakinan”
di seluruh dunia adalah antara 500 sampai 700 juta, dengan Cina dan Rusia
sebagai kontributor terbanyak. Sementara studi yang dilakukan Pew Research
Center (sebuah lembaga riset yang cukup ternama) menyebut 16% dari populasi
dunia adalah kalangan yang “tidak terafiliasi ke agama apa pun” (unaffiliated).
Di Amerika Serikat populasi unaffiliated ini terus meningkat. Tahun 2007,
kalangan atheis di AS hanya 1,6%. Tahun 2014 jumlahnya jadi dua kali lipat,
3,1%. Sementara ‘sepupu’ mereka, kalangan agnostik, meningkat dari 2,4% menjadi
4%. Itu belum termasuk kalangan yang menganggap “agama tidak penting” (nothing
in particular) yang bertambah dari 12,1% menjadi 15,8%. Kalau mereka semua
dikumpulkan, jumlahnya pada tahun 2014 mencakup 22,8% dari penduduk AS.
Bagaimana di wilayah-wilayah lain? Angka statistik memang kadang bikin
puyeng, karena beda lembaga survei, beda pula hasilnya. Dan bisa dimaklumi,
angka dari lembaga yang sama pun akan berbeda jika survei dilakukan pada waktu
yang berbeda. Tambah jangar karena perbedaan definisi dan kategori juga membuat
angka berbeda secara menyolok. Namun sebagai gambaran, kita ambil salah satu
hasil survei yang menunjukkan bahwa populasi atheis itu bukan cuma ada di
negara-negara Barat. Mungkin tidak terlalu mengejutkan kalau survei itu
menyebutkan bahwa jumlah atheis di Inggris 25%, Prancis 40%, Belanda 30%,
Jerman 27%, dan Jepang serta Cina masing-masing 32% dan 61%. Tapi jangan
disangka di negara-negara Timur Tengah mereka tidak eksis. Walaupun
prosentasenya kecil, mereka ada juga di kawasan tersebut. Populasinya, menurut
survei tersebut, di negara Mesir 3,57%, Maroko 1%, Iran 5%, Arab Saudi 5% dan
Turki 2,9%.
Bagaimana dengan di Indonesia? Hasil studi oleh WIN-Gallup
International tahun 2014 menunjukkan jumlahnya ‘hanya’ 0,19%. Bandingkan dengan
Malaysia yang mencapai 3%. Angka 0,19% mungkin kecil, tapi kalau kita kalikan
dengan jumlah penduduk, itu artinya sekitar setengah juta jiwa! Benarkah
sebanyak itu jumlah atheis di Indonesia? والله
أعلمُ
#Memahami_Joker_Berpikir
Sejak lama saya penasaran bagaimana seseorang bisa menjadi atheis.
Saya yakin menjadi atheis adalah keputusan yang teramat besar karena menyangkut
banyak (bahkan mungkin semua) aspek kehidupan seseorang. Pastinya bukan ide
yang melintas begitu saja ketika bangun pagi atau ketika sedang menunggu Abang
Ojol datang membawa pesanan ayam geprek. Bagaimana seseorang bisa sampai pada
titik “tidak percaya” pastinya melewati perjalanan panjang. Bagi banyak orang
yang dibesarkan dalam keluarga beragama, menjadi atheis itu impossible. Tidak
pernah terbersit. Namun nyatanya bukan cuma ada, melainkan banyak. Tahapan
studi apa yang sebenarnya mereka jalani, sejauh apa riset mereka, dan seberapa
dalam mereka berkontemplasi? Ataukah yang lebih berperan justru bukan keliaran
berpikir, melainkan pengalaman emosional buruk yang membekas teramat dalam?
Lebih jauhnya saya ingin memahami bagaimana otak atheis bekerja. Harap
dimaklumi, mencoba memahami, bukan berarti membenarkan. Ibarat melihat film
“Joker,” kita menjadi tahu mengapa Arthur Fleck menjadi jahat, bukan berarti
kita membenarkan kejahatannya. Mengapa hal ini harus dipahami? Karena yang saya
perhatikan, khususnya di Indonesia, para atheis itu tidak murni sebagai
"orang yang tidak percaya terhadap kepercayaan pada Tuhan" tetapi
banyak yang punya aktivitas tambahan sebagai pembenci Islam. Mereka tidak
terlalu galak terhadap ajaran dan pemeluk agama lain, seolah misi mereka
menjadi atheis itu semata-mata menentang dan membenci Islam. Berbeda dengan
para atheis di Barat sana, pandangan mereka lebih 'netral', bahwa semua agama
cuma kekonyolan belaka.
Road to atheism itu sangat personal dan individual, berdasarkan
kondisi yang sangat khusus, demikian kata seseorang. Mungkin yang dimaksud
"sangat khusus" di sini adalah pengalaman pahit dalam hidup
seseorang. Dan bagi sebagian mereka ‘pilihan’ menjadi atheis bukan hasil proses
memilih. Mereka tidak percaya Tuhan, ya sudah. Bukan sengaja memilih jadi
atheis, melainkan hanya konsekuensi dari ketidakpercayaan.
#Dinyatakan_tanpa_Bukti_Ditolak_tanpa_Bukti
Akar dari ketidakpercayaan mereka, sebagaimana mungkin mudah diduga,
adalah pemujaan pada akal dan logika. Segala sesuatu, bagi mereka, harus bisa
masuk akal dan bisa dijelaskan dengan logika. Akan sia-sia meyakinkan mereka
bahwa kemampuan akal dan logika manusia itu terbatas. Ada pernyataan yang kerap
dikutip dari Christopher Hitchen, seorang "anti-theist"
Inggris-Amerika yang menulis banyak buku. Pernyataan tersebut dikenal sebagai
Hitchen’s Razor (philosophical razor adalah istilah untuk sebuah konsep yang
bertujuan menyingkirkan penjelasan atau argumen yang tidak bisa diterima.)
Begini bunyinya: “Hal yang bisa dinyatakan tanpa bukti, juga bisa ditolak tanpa
bukti.” Pernyataan ini sebenarnya berasal dari kaidah hukum Latin: “Quod gratis
asseritur, gratis negatur.”
Dalam pemahaman para atheis, karena konsep ketuhanan tidak bisa
dibuktikan secara ilmiah, maka berdasarkan dalil di atas, bisa ditolak. Hal ini
terkait dengan konsep dasar realitas. Kalangan atheis berpandangan bahwa dalam
agama konsep realitas sudah diketahui dan itu diperoleh dari kitab suci. Tapi
kitab suci tidak bisa diuji. Sedangkan menurut sains konsep dasar realitas itu
belum diketahui. Perhatian sains adalah pada menemukan hakikat realitas tanpa
berasumsi. Konsekuensinya, teori-teori ilmiah apa pun baru bisa diterima
setelah lolos uji. Mereka berpandangan agama tidak tertarik untuk menguak
kebenaran karena kebenaran tersebut sudah diketahui.
Analogi yang dikemukakan biasanya gambaran begini:
Seorang yang tidak Anda kenal mengetuk pintu rumah dan mengatakan
bahwa anak Anda meninggal karena tertabrak di jalanan. Apakah Anda akan
percaya? Kemudian ada seorang polisi berseragam datang dengan mobil dinas,
mengabarkan hal yang sama. Percakayah Anda kali ini?
Banyak orang akan percaya kepada kabar dari polisi karena mereka punya
otoritas untuk menyampaikan kabar demikian. (Sampai di sini para atheis
menyamakan penganut beragama dengan mereka yang percaya pada polisi karena
kabar dibawa oleh orang yang "punya otoritas.") Tapi menurut kalangan
atheis, Anda tidak bisa mempercayai polisi sebelum melihat dengan mata kepala
sendiri tubuh anak yang meninggal tertabrak.
Begitulah mereka menyikapi konsep ketuhanan. Karena mereka tidak bisa
melihat dengan mata kepala sendiri, artinya tidak bisa dibuktikan. Dan
ujung-ujungnya konsep tertolak. Sebagai turunannya, semua hal yang berkaitan
dengan dan bersumber dari agama menjadi tidak ilmiah. Jika ada kajian atau buku
yang mengupas hal-hal ilmiah, katakanlah misalnya tentang big bang theory
(teori dentuman besar) yang disebut dalam Al Quran S 21: 30 dan Al Quran S 51:
47 (tentang the expanding universe atau jagat raya yang mengembang, seperti
juga dirumuskan dalam Hubble's Law), bagi mereka adalah upaya membongkar
misteri sains dengan dongeng. Kalaupun ada bukti ilmiah yang mendukung
kebenaran Al Quran, itu hanyalah hasil dari cocoklogi. Ilmuwan kalau sudah
bersinggungan dengan agama menjadi idiot. Karena ilmuwan tersebut hanya
menyampaikan dongeng yang diilmiahkan, begitu menurut mereka.
#Moral_dengan_dan_tanpa_Agama
Karena konsep awal ketuhanan tidak mereka terima, maka demikian juga
semua yang berhubungan dengannya. Mereka tidak dapat memahami bahwa ummat
beragama yang beramal saleh di dunia akan mendapat ganjaran surga di akhirat.
Dalam hal moral, mereka menilai diri sendiri lebih mulia karena mereka berbuat
baik bukan lantaran mengharap pahala surga. Amal ibadah itu nol besar bagi
mereka, yang penting moralitas yang baik. Dan untuk bermoral tidak perlu
ber-Tuhan. Senjata yang dipakai untuk mengolok-olok ummat Islam adalah bahwa
Muslim mau beriman dan beramal saleh karena diiming-imingi sex party dengan 72
bidadari. Seorang atheis pendukung berat Israel yang juga peraih Nobel untuk
Fisika tahun 1979, Steven Weinberg mengatakan, “Dengan atau tanpa agama, orang
baik bisa berbuat baik dan orang jahat bisa berbuat jahat; tapi bagi orang baik
berlaku jahat—diperlukan agama.”
Mereka tidak habis pikir, bagaimana Muslim menganggap bahwa Islam
menawarkan solusi bagi semua permasalahan hidup. Islam memberikan solusi,
misalnya untuk yang berwajah suram maka tahajudlah, jika tidak bahagia salatlah
awal waktu, jika emosi meningkat berwudlulah dan perbanyak istigfar, jika
gelisah perbanyak doa dan ibadah, jika hati sempit bacalah Al Quran, jika hidup
banyak beban perbanyaklah sedekah, jika mendapat tekanan banyak-banyak
berdzikir, dan jika sakit berpuasalah. Hal-hal demikian tidak dapat diterima
oleh akal mereka.
Mereka gusar dengan ghirah ummat Islam yang menginginkan sendi-sendi
kehidupan pribadinya berdasarkan ajaran Islam. Bagi mereka itu semacam
pemerkosaan terhadap nalar. Bagaimana mungkin kehidupan diatur oleh sesuatu
yang absurd? Sedangkan untuk kondisi yang memerlukan deus ex machina saja Tuhan
tak berdaya. Mengapa Tuhan tidak hadir di Aleppo, adalah pertanyaan klasik yang
sering mereka lontarkan. Mereka terpingkal-pingkal mendengar ummat Islam
menghubungkan datangnya musibah dengan banyaknya dosa. Dan karena (juga) tidak
percaya dengan adanya syetan, mereka menganggap ajaran yang menyebut bahwa
syetan musuh nyata manusia dan akan selalu berusaha menjerumuskan manusia,
sebagai ajaran menyesatkan. Sebagai upaya manusia mencari kambing hitam.
Berdosa karena nafsu kok menyalahkan syetan, kata mereka.
Apalagi kalau ghirah itu juga diterapkan untuk kehidupan sosial
bermasyarakat. Karena hal tersebut akan mempengaruhi cara orang berinteraksi
satu sama lain. Bayangkan bagaimana memuncaknya kegusaran itu manakala banyak
ummat yang menghendaki bukan hanya sendi-sendi kehidupan bermasyarakat saja
yang berlandaskan agama, tapi dalam skala yang lebih luas, dalam bernegara.
Semacam ada ancaman bahwa keberlangsungan “spesies” mereka tidak akan bertahan
dalam upaya survival of the fittest.
#Gusar_akan_Ghirah
Jadi bisa dimaklumi bagaimana mereka risau betapa banyaknya kehidupan
ummat Islam mengacu kepada aturan yang ditetapkan Tuhan. Misalnya pemisahan
wanita dan pria dalam suatu majelis. Acara pernikahan yang memisahkan antara
tamu wanita dan pria saja bisa membuat mereka tidak bisa tidur semalaman karena
gundahnya. Mereka membandingkan foto anak SMA masa kini dengan foto serupa
puluhan tahun lalu. Dulu, foto siswa-siswi itu begitu “alami” tanpa ada diferensiasi.
Sekarang para siswinya sebagian berhijab. Memperlihatkan, apalagi menonjolkan
identitas keagamaan itu dinilai suatu yang “tidak ramah" alias mengancam.
Untuk alasan yang sama mereka tidak menyukai ummat yang bercelana cingkrang,
kecuali kalau dia Keanu Reeves atau artis Korea. Ketika mengetahui bahwa
beberapa lembaga pendidikan memberi fasilitas khusus dalam proses penerimaan
bagi hafidz Quran, mereka menilai dunia pendidikan sudah “dikotori” paham garis
keras. Suara-suara khawatir juga muncul ketika pemuda Enzo tetap diterima di
pendidikan militer, setelah banyak berita simpang-siur yang menghubungkan
dirinya dengan Islam garis keras. Apa jadinya kalau suatu saat dia menjadi
panglima, tanya mereka.
Dalam tataran hidup bernegara, aturan yang mengakomodir ummat Islam
merupakan pengekangan bagi kebebasan mereka. Mereka memandang memilih pemimpin
berdasarkan kesamaan keyakinan atau karena harapan terakomodirnya tuntutan
agama merupakan salah sebuah kebodohan yang diakibatkan oleh doktrin agama. Tidak
peduli seberapa pintar dan bagus kinerja pemimpin yang membawa citra islami,
bagi mereka semua nol besar. Karena pemimpin Muslim tidak ada yang benar.
Kalaupun ada pemimpin beragam Islam, dia tidak boleh menonjolkan keislamannya,
apalagi membuat kebijakan didasari kepentingan Islam. Dengan mengutip data
serampangan, mereka selalu mengatakan bahwa di negara-negara mayoritas Islam
kondisi umumnya adalah tingkat kemiskinan dan kejahatan tinggi, tingkat
pendidikan rendah, dan Human Development Index jeblok. Miriplah dengan yang
disampaikan seorang dosen kontroversial di Jakarta dalam sebuah video baru-baru
ini.
Agama tidak usah ikut mencampuri urusan negara, selalu itu yang
digembar-gemborkan. Tetapi ketika ditanyakan mengapa duit zakat dan haji boleh
dipakai pemerintah untuk pembangunan infrastruktur, mereka menjawab: agama
memang tidak boleh mencampuri urusan negara, tapi negara boleh mencampuri
agama.
#Battle_of_Thoughts
Karena mereka tidak ingin “pengaruh Islam” itu semakin mengganggu
“ketenteraman” hidup mereka, maka mereka akan melakukan apa pun untuk
menghentikannya. “If you expect me to keep my atheism quiet, then I expect you
to keep your religion quiet. You love the freedom of religion and I love the
freedom from religion.” Jika ada pemimpin yang memberi peluang pada Islam,
mereka akan serang dan hancurkan nama dan karirnya dengan apa yang mereka bisa.
Kalau ada berita yang menyudutkan ummat Islam, mereka akan dengan senang hati
menyebarkannya, tidak peduli berita tersebut benar atau tidak. Prinsip kritis
terhadap sumber berita menjadi tidak berlaku sepanjang isinya menyudutkan
Islam. Dan mereka dengan senang hati menjadi cheerleaders jika pertentangan
antar-ummat Muslim muncul di panggung massa. Sedangkan berita adanya warga
Kurdi Irak yang memeluk kembali Zoroaster (Majusi) saja mereka sambut dengan
suka cita. Tapi mereka diam seribu bahasa ketika beredar berita tentang pasien
Muslim di sebuah yayasan di Sumut yang dipaksa pindah keyakinan. Atau berita
seseorang melempari masjid dengan kotoran. Dan masih banyak berita sejenisnya.
Makanan empuk mereka adalah berita tentang kalangan beragama apalagi
tokoh agama berbuat skandal. Jagankan berbuat salah, berbuat benar saja
dicari-cari kesalahannya. Mereka seperti sekumpulan piranha yang berenang ke
sana ke mari di bawah permukaan Sungai Amazon. Mereka serentak berpesta ria
jika ada drama semisal pelemparan panci, penusukan dengan invisible knife dan
sejenisnya yang dinisbatkan pada ummat Islam. Itu adalah momen yang ditunggu
karena merupakan kesempatan untuk menyudutkan Islam. Berita-berita negatif
terkait Islam (dari mana pun sumbernya dan betapa pun aneh skenarionya) ibarat
keratan daging yang dilempar ke Sungai Amazon. Mereka akan berebutan
melahapnya. Bedanya kalau piranha melahap sampai habis, mereka menggorengnya
sampai titik air liur penghabisan.
Hal-hal yang membuat mereka senang adalah ketika ada sebagian ummat
Islam membubarkan pengajian sesama Muslim. Atau penghadangan terhadap ustadz
tertentu, atau bahkan pemenjaraan ustadz. Bagi mereka, apa yang dilakukan
seorang pejabat belakangan ini dengan mempermasalahkan celana cingkrang, niqab,
dan isu Islam radikal, adalah upaya pemberantasan kegoblokan. Apa yang
disampaikan Din Syamsudin bahwa “Wacana anti radikalisme menyakiti ummat Islam”
bagi mereka adalah pembenaran bahwa logikanya Islam adalah radikalisme. Intinya
mereka tidak ingin Islam semakin berkembang. Kalaupun Islam mayoritas, tidak
perlulah menunjukkan identitas keislaman. Mereka setuju dengan adanya larangan
celana cingkrang atau niqab, atau apa pun yang bisa mengerem laju perkembangan
Islam, karena dengan begitu, bagi mereka, Indonesia kembali menjadi Indonesia.
Entah bagaimana impian mereka tentang Indonesia.
No comments:
Post a Comment